Minggu, 22 Oktober 2017

Pendidikan mental ?


Dulu waktu masih ABG , kalau nonton TV lawak Bagio, saya tertawa terpingkal pingkal. Apalagi kalau Bagio malakonkan orang bodoh dan jadi korban lawakan. Papa saya hanya tersenyum. Namun setelah acara lawak selesai, papa saya menasehati saya yang sampai kini saya tidak bisa lupa “ Kamu tertawa karena melihat kekonyolan pelawak itu. Tapi kamu engga sadar bahwa apa yang dilakukan pelawak itu semata mata cari uang untuk keluarganya. Dia tidak peduli jadi bahan olokan dan ketawaan orang se Indonesia. Yang penting di bisa menghibur orang dan dia dapat uang karena itu. Itulah kehidupan. Kamu harus bisa menjadi diri kamu sendiri dan tak peduli seburuk apapun anggapan orang atas profesi kamu selagi itu halal, jalankan. Tanpa ragu. Merdekakan diri kamu tanpa harus jadi pengekor orang lain.

Pernah kalau sholat berjamaah dimana kakek ( Babo ) saya sebagai imam dan saya , nenek, juga tante saya sebagai makmum. Setelah usai sholat , kakek saya hanya wirid dan kemudian berdiri. Biasanya setelah itu, nenek saya akan ngomel ke kakek, bahwa dia mengajarkan saya sombong kepada ALlah, dengan tak mau berdoa. Tapi kakek saya hanya tersenyum. Ketika saya tanya kepada kakek atas sikapnya itu, maka inilah jawabanya yang tak pernah saya lupa “ Kakek setiap waktu berdoa dan lagi sholat itu sendiri adalah doa. Tapi doa yang paling baik adalah ketika kamu berbuat baik. Contoh ketika kamu ada kelebihan rezeki kamu bersedekah, berdoalah ketika itu, Ya Tuhan, engkau beri aku rezeki dan aku mencintai Engkau karena itu aku memberi kepada orang lain yang membutuhkan pertolongan. Contoh lain, ketika orang menzolimi kamu atau menghina kamu, maka segeralah berdoa “ Ya Tuhan beri aku kekuatan dalam kesabaran agar aku tidak jatuh dalam kehinaan dihadapanmu karena marah dan benci.”

Itu sebabnya ketika saya gagal masuk PTN, yang dikawatirkan oleh kedua orang tua saya , bukanlah gagal jadi sarjana tapi saya gagal menjadi diri sendiri. Karena kalau saya gagal menjadi diri saya sendiri maka itu artinya mereka gagal mendidik saya dan saya memang tak pantas dilahirkan. Dan itu tanggung jawab mereka kepada Allah. Teringat surat dari kampung kepada saya di rantau “ Kamu tidak gagal. Papa tidak mendidik kamu pengecut dan bergantung kepada titel pemberian orang. Kamu putra kami, jadilah sebaik baiknya diri kamu saja. Jangan pikirkan soal kegagalan kamu. Kamu tetap kebanggaan papa“ Dan ibu saya memberi motivasi saya “ Jangan karena kamu gagal kamu menjauh dari Allah. Selagi kamu dekat kepada Allah, kamu akan baik baik saja. Tuhan tidak aniaya, anakku. Kamu sebaik baik makhluk ciptaaNya. Jadi teruslah melangkah tanpa ragu.” Ketika kali pertama saya mampu keluar negeri berbisnis dengan orang asing, saya menangis ingat kedua orang tua saya yang telah mendidik mental saya dalam kesabaran dan penuh cinta.

Dari papa , saya mendapatkan nilai nilai budaya Minang untuk mandiri dari segi pikiran maupun perasaan dalam menghadapi realitas kehidupan, Kelak ini menjadikan mental saya tidak pernah merendahkan profesi orang lain dan menaruh hormat setiap effort orang untuk mencapai sukes dan bermitra dengan siapapun tanpa melihat suku dan agama orang lain. Dari kakek , saya mendapatkan pendidikan nilai nilai agama bahwa agama itu bukan yang diketahui dan dipelajari tapi di praktekan. Agama itu bukan hafalan tapi perbuatan untuk hanya beribadah kepada Tuhan. Saya tidak akan mengatakan kepada orang lain agama saya lebih baik kalau saya tidak mandiri secara ekonomi dan sosial. Karena agama saya mendidik saya untuk menjadi manusia mandiri dan pemberi, bukan meminta, apalagi pengeluh. No way.

Walau kedua orang tua saya tidak berpendidikan tinggi namun mereka menghadirkan secara nyata pendidikan karakter di dalam keluarga. Walau mereka bukan sarjana tapi 7 orang anaknya satu orang Phd, empat orang S2. Tapi tetap dengan prinsip mandiri entah itu jadi Professional, pengusaha, dosen, PNS. Karena semua kami dididik untuk berAgama dan berbudaya dalam bentuk perbuatan bukan retorika. Kami penganut yang taat tapi juga taat terhadap sunattulah. Bahwa menjadi diri sendiri adalah perjuangan untuk meraih ridho Allah. Jadi wahai anakku dan saudaraku dimana saja berada. didiklah anak dan keluargamu jadi mahluk merdeka. Ingat kemerdekaan negara kita tidak otomatis membuat kita merdeka secara mental . Yang menjajah kita bukan orang asing atau orang lain tapi diri kita sendiri..mindset kita yang menjajah kita. Merdekakan putra putri kita agar unggul dalam persaingan global..

Kamis, 05 Oktober 2017

Jangan sedih, Uni...


Uni diam saja. Hanya memandang. Lurus. Kosong, jauh. Lebih-lebih kalau duduk depan jendela. Angin kadang memburai-burai rambutnya sampai masai, namun Uni bergeming. Matanya terus menerawang ke cakrawala. Wajahnya tambah putih, kian lesi. Tidak jarang air matanya merambat sepanjang pipi. ”Uni ! Uni !” adik-adik mengimbau, berlari mendekati, memeluk, serta menarik-narik tangannya. Uni tak hirau. Tetapi ibu terus bicara. Ibu bilang kami juga harus sering bicara dengan Uni , menyeru namanya. ”Tapi Uni diam saja,” kata adik-adik. ”Seperti tak mendengar.”
”Uni mendengar,” ujar ibu. ”Dia sayang sekali kepada kalian.”

”Mengapa uni tidak menyahut?” adik terkecil bertanya kepada Uni Ros.

” Uni sedang malas bicara,” jawab Uni Ros. ”Ajaklah terus berkata-kata.”

”Malas bicara, seperti kalau aku ngambek?”

”Ya. Begitu.”

Sambil lambat-lambat menyisir rambut uni yang sepinggang ibu berucap, ”Ai, ai, harum dan bagus sekali rambutmu, Nak. Ikal. Legam. Ah, tidak elok kita terus mengenang yang sudah-sudah sampai rambut tak terurus. Itu, paman dan bibimu tiba, Nak. Salamilah paman dan bibimu.” Uni tetap tidak beringsut. Sudah lama uni serupa patung hidup. Sejak dia di pulangkan oleh suaminya , karena Uni tidak mau dimadu untuk kesekian kalinya. Suaminya guru mengaji dan juga acap diundang orang berdakwah. Pada waktu suaminya minta izin menikah untuk kali pertama, Uni bisa menerima karena Uni belum juga hamil setelah dua tahun menikah.

Tapi ketika suaminya minta izin menikah untuk ketiga kalinya Uni tidak menjawab apapun. Suaminya tetap melangsungkan pernikahan. Dan ketika suaminya menikah untuk keempat kalinya, Uni berontak dengan suara kencang sekali. Setelah itu Uni tidak lagi bicara. Dia menutup rapat mulutnya. Mungkin karena itu suaminya memulangkan Uni ke rumah kami.
”Baru kemarin aku baru bisa berangkat,” kata Paman Adi seperti minta maaf. ”Aku sibuk sekali. Banyak rapat bisnis yang harus aku lakukan.”

” Harus tunggu anak anak untuk jaga rumah. Baru bisa kemari. Maklum kami hanya berdua saja dirumah ” istri paman menambahkan.

”Paham aku itu,” balas ibu mengangguk, lalu menoleh kepada Uni. ”Begitu keadaannya, lihatlah.”

Istri Paman Adi menghampiri uni. ”Tapi mau dia makan, Uni?

”Mau. Disuapi.”

”Disuapi?” Bibi senyum memeluk bahu Uni. ”Disuapi engkau Meriani, anak rancak? Eh, kenapa keningnya ini?” Senyum bibi tiba-tiba lenyap.

”Tempo hari dia benturkan ke kaca rias,” sahut ibu. ”Tapi tidak dalam. Sudah kering sekarang.”

”Kenapa bisa begitu Nak!” Seru Bibi. “ Tengoklah, Bang!” Kata bibi kepada Paman. Bibi merebahkan kepala Uni di dadanya. Membelai-belai rambut dekat luka. ”Masih rajin engkau mengaji, Meri? Nanti mengaji, ya. Bibi ingin mendengarmu mengaji. Pamanmu juga.” Tidak berjawab. Hanya bulu mata lentik Uni mengerjap-ngerjap. Kemudian air 
matanya membersit lambat-lambat, bagai rembesan pada panci rusak.

”Lepaskan, Nak. Tumpahkan terus. Menangislah keras-keras!” ujar bibi masih tersenyum. Kakak terisak. Bahunya bergerak-gerak. Adik-adik dan Uni Ros berlarian mendekat. ”Uni! Uni...! Mereka rangkul tangan dan tubuh Uni . Uni tersedu-sedu dalam pelukan bibi.

”Maulud Nabi kemarin sudah tak disuruh orang dia mengaji,” kata ibu seperti berbisik kepada Paman Adi.

”Buya Nawawi juga tidak menyuruh?”

”Dia tetap. Sengaja buya tua itu kemari. ’Siapa pula anak gadis sefasih engkau mengaji Meri, ia bilang. Mengajilah saat maulud, sebagai biasa’. Tapi yang muda-muda menolak. Sekarang orang-orang muda berkuasa di surau. Katanya, tak ingin menerima istri durhaka kepada suami”

Paman Adi melempar pandang ke luar rumah. Sebuah bendi lewat di muka rumah, penumpangnya tak menengok. Paman kembali melihat ibu. ”Sebaiknya Uni ikut denganku ke jakarta ,” dia bilang.

”Bagaimana aku bisa pindah, Adi ? " jawab ibu. ”Rumah ini peninggalan Uda Amsar kau. Aku ingin membesarkan anak anak dirumah yang Uda kau dapat dari kerja kerasnya. Aku akan menjaga hartanya dan bekerja keras membesarkan konveksi yang diwariskan Uda kau”

” Uni masih muda. Menikahlah lagi”

" Sudah kepala lima usiaku. Tak terpikirkan bagiku untuk menikah lagi. Bagiku anak anak adalah tugas yang harus aku tuntaskan. Ini amanah dari Uda kau sebelum meninggal. Eh siapa pula yang mau menikahi ku…"

" Uni aku hanya ingin menghindarkan Uni dari fitnah. Di kampung ini orang mudah sekali bergunjing walau sumber berita fitnah belaka. Aku sebagai adik pria Uni harus bertanggung jawab terhadap kehormatan Uni.Kalau uni tak ingin menikah lagi, Ikutlah dengan Ku ke jakarta. Ajak keempat anak anak Uni. Tinggal dirumah ku. Kami dirumah hanya berdua saja. Kedua anak kami kan sekolah di luar negeri”

”Tak mau aku. Uni tahu kau sangat peduli dengan Uni. Tapi Uni akan baik baik saja. Yang penting sering seringlah telp Uni ya and tengokin uni Ya. "
Paman terdiam lama. Menyulut rokok. Melihat pula ke luar. Orang-orang tetap lewat di muka rumah, tak menengok. Hanya melirik sedan yang disewa paman di bandara sedang Parkir di halaman.Akhirnya paman berkata " Kalau begitu biarlah Meri ikut aku ke jakarta. Biar aku yang urus dia. Semoga dia bisa tenang disana dan bisa semangat lagi hidupnya untuk memulai hidup baru. Bolehkah Uni”

" Baguslah kalau itu keputusan kau Adi. Uni hanya turut saja. Kau pamannya kau lebih berhak atas kemenakan kau”

”Sstt!” ucap bibi perlahan. Mengejutkan kami. "Tidur.” Berbisik pula pada adik-adik, ”Ambil bantal, selimut!” Lalu dia rebahkan kepala Uni hati-hati. Dia luruskan kakinya. Diselimuti.

Saat tidur begitu muka uni persis bayi. Bersih. Polos. Tak sedikit pun tersisa galau yang mendera: Ayah meninggal , diceraikan suami, diasingkan orang Kampung. Padahal, sebelumnya Uni periang, terkadang terdengar menyanyi di kamar mandi: tak ’kan lari gunung dikejar/ hasrat hati rasa berdebar…. Atau diajaknya adik-adik, aku, Uni Ros berdoa, supaya ayah dilapangkan kuburnya dan kelak kami bisa berkumpul lagi di sorga.

Lalu tiba suatu hari karena status istri tertua dari tiga istri, suaminya kembali minta izin menikah keempat, serupa badai Dan suaminya itu muncul di suatu petang, berwajah dingin memulangkan cincin kepada ibu. Tetapi, mantan suaminya maupun keluarganya selalu lewat di depan rumah dengan dagu terangkat pongah, saat uni mulai terbiasa duduk di muka jendela. Kemudian mantan suaminya itu memang tidak terlihat lagi. Kata orang ia sudah tinggal dirumah istri keempatnya di kampung sebelah. Sementara Uni semakin betah di muka jendela, menatap kejauhan tak berbatas.

”Sudah ke mana-mana kuobati,” kata ibu, memandang paman serta bibi penuh harap. ”Belum juga ia berubah. Ada kira-kira dokter di Jakarta dapat menangani?”

”Ada!” Paman dan bibi menjawab serempak. ”Tenanglah Uni,” lanjut bibi. 

”Kalau perlu kami bawa ke dokter di luar negeri. Sesekali akan kubawa pula dia umrah. Biar terbuka pikirannya”

”Kukhawatirkan justru Uni,” ulang Paman Adi. ”Ikutlah ke Jakarta!”

”Tak perlu khawatir, Adi" balas ibu. Sambil mengelus kepala paman ”Tidak semua orang jahat di kampung ini. ”

Uni terus tidur di beranda, tak bergerak-gerak seperti bayi. Napasnya lunak. Kulitnya bersih. Putih. Apa gerangan terlintas di pikirannya sehingga mukanya begitu bersih dan tenang? Apakah dalam tidurnya dia bertemu ayah? Di antara kami uni paling dekat dengan ayah. Barangkali karena perempuan, putri sulung; tapi tangannya campin pula, terampil-cekatan menangani rumah. Ayah bangga dengannya, berharap uni jadi guru tamat IAIN. Sedangkan Uni Ros diharapkan menjadi dokter”.

”Kakek-nenek kalian guru. Mestinya ayah juga. Tetapi malah jadi pengusaha konveksi. "Ayah tertawa suatu ketika. ”Syukur ada uni kalian, ya?” Kami mengangguk, turut bangga walaupun uni waktu itu baru kelas satu Sekolah Guru Atas.”

" Ayah, aku ingin punya suami seperti Ayah. Walau tak gagah rupa tapi ayah sangat sayang ke bunda dan kami. Tak seperti Angku Jafar yang kaya itu , yang punya istri empat. Tak suka aku lihat gayanya" Kata Uni.
" Apa maksud mu soal si Jafar?

" Bolehkah aku tahu pendapat ayah soal poligami " kata Uni tanpa rasa sungkan. Dan ayah memang mendidik kami sangat demokratis. Apalagi antara ayah dan Uni dekat sekali. Uni sangat manja kepada ayah.

" Pria boleh berpoligami selama dibutuhkan untuk menjaga dan mengelola harta anak yatim dari perempuan-perempuan yang ditinggal suaminya. Itupun dengan syarat wanita itu sebatang kara. Tidak punya kakak laki laki atau adik laki laki, Tidak punya paman dan ayah. Tapi jarang pria menikah lagi karena niatnya melindungi perempuan yang ditinggal mati suaminya demi menjaga harta dan memelihara anak yatim. Umumnya pria menikah lagi dengan perawan atau karena kecantikan wanita. Lebih karena nafsu rendah. Kedua, pernikahan itu harus ADIL. Adil disini bukan soal nafkah lahiriah tapi soal batin, dalam hal perasaan, emosi, cinta, kasih sayang.”

" Oh betapa ketatnya Allah memberikan syarat poligami bagi laki-laki. Jadi benar secara syar’i poligami itu bukan hal mudah bagi laki-laki, bahkan tidak mungkin. “

" Benar anaku. Coba baca Annisa ayat 129 “walan tastati’u anta’dilu baina annisa walau harastum,” kamu tidak akan bisa berbuat adil di antara istri-istrimu kalaupun kamu sangat ingin melakukan hal itu. Nabi Muhammad mengatakan “Barang siapa yang mengawini dua perempuan, sedangkan ia tidak bisa berbuat adil kepada keduanya, pada hari akhirat nanti separuh tubuhnya akan lepas dan terputus.” Masya Allah, ayah tidak mau terjadi seperti sabda Rasul itu. Bahkan sebagian ulama berpendapat bahwa poligami bisa diharamkan ketika calon suami tahu dirinya tidak akan bisa memenuhi hak-hak istri, apalagi sampai menyakiti dan mencelakakannya."

Uni sangat tercerahkan dengan pitutuah ayah itu. Kelak setelah Uni menikah , Uni selalu unggul dalam debat dengan suaminya yang meminta izin menikah lagi. Tapi entah mengapa semakin Uni paham dalil soal poligami semakin menjadi jadi gila kelakuan suaminya. Tak penting Uni setuju atau tidak, suaminya tetap menikah dengan seringai srigalanya

”Rencanaku besok kembali,” ucap Paman Adi . ”Kubawa Meri sekalian. Jaga diri Uni baik baik. Kalau ada apa apa telp aku. Si Burhan kalau tamat SLTP suruh dia ke jakarta biar aku urus pula dia.”

Ibu mengangguk-angguk. Ibu bernapas lega. Besoknya, Uni dibawa paman dan istrinya. Ibu menangis. Kami juga. Rumah jadi lengang—lengang sekali. Uni telah pergi. Tidak lagi berada di tengah-tengah kami. Dekat kami. Tapi, setidaknya mantan suaminya takkan lagi bisa tersenyum mengejek melihat Uni lagi termenung di depan jendela, memandang gunung ataupun kejauhan tiada batas. Tidak dapat lagi dia atau keluarganya mengangkat dagu dengan pongah bila lewat di muka rumah kami.

Di era sekarang , akal memperluas cakrawala, dan hati memperkaya Sukma. Sorga itu janji Tuhan namun cinta Tuhan yang utama. Bukan banyak ritual agama yang dituju tapi ikhlas yang utama .Uni telah bersikap dengan ilmunya dan hatinya menerima dengan berat namun ia berusaha ikhlas. Suaminyapun telah bersikap dengan ilmunya namun bertindak dengan nafsunya. Kami dibesarkan oleh ayah yang taat beragama namun rendah hati dalam beriman. Dan keperkasaannya sebagai pria tidak ditunjukkan kemampuannya menikahi banyak wanita tapi mendidik anak dan istri dengan teladan akhlak mulia. Paman Adi pengusaha hebat namun adat dan agama tetap menjadi bagian hidupnya. Anak dipangkunya, kemanakan dilindunginya dan saudara perempuan dijaganya dari fitnah..

Sabtu, 02 September 2017

Memahami APBN secara sederhana


Penghasilan Pak Dulah sebagai Guru honorer sebulan Rp.800.000. Itu pekerjaannya untuk 3 jam di sekolah SLTP. Dengan penghasilan sebesar itu pak Dulah harus menghidupi biaya rumah tangga dengan satu anak. Pengeluaran sebulan setelah di hitung mencapai Rp. 3.000.000, yang terdiri dari biaya transfortasi sebesar Rp. 500.000. Biaya makan Rp. 1.800.000. Biaya sewa rumah Rp. 700.000. Artinya defisit sebesar Rp. 2.200.000. Lantas bagaimana Pak Dulah bisa bertahan hidup dengan biaya lebih besar dari pendapatan tetapnya ?

Perhatikan solusi yang dikakukannya. Pertama dia membeli motor dengan kredit. Dengan uang gaji dia pakai untuk uang muka pembelian motor sebesar Rp. 300.000. Cicilan sebesar Rp. 800.000 sebulan untuk jangka waktu 3 tahun. Motor itu digunakannya untuk pergi mengajar. Artinya ada penghematan sebesar Rp.500.000/Bulan biaya transfortasi. Sepulang mengajar, motor itu digunakan untuk ngojek dengan penghasilan bersih rata rata sebulan Rp. Rp. 1500.000. Kemudian di bantu istrinya , dia membuka warung depan rumah. Untuk modal , dia menarik kredit dari koperasi simpan pinjam sebesar Rp. 3 juta. Dengan cicilan sebesar Rp. 300.000 sebulan. Dari usaha warung rumahan itu , diperoleh pendapatan rata rata bersih sebulan Rp. 1500.000.0.

Sekarang perhatikan struktur anggaran rumah tangga Pak Dulah.
Penerimaan
Gaji honorer                                      = Rp.    800.000.
Pendapatan dari ngoject                    = Rp. 1.500.000
Pendapatan dari Usaha warung           = Rp. 1.500.000
Penghematan transfortasi                   = Rp.    500.000
Total penerimaan adalah                    = Rp. 4.300.000.0
Pengeluaran
Belanja rutin                                     = Rp. 3.000.000
Cicilan motor                                     = Rp.    800.000
Cicilan hutang koperasi                      = Rp.    300.000
Total pengeluaran                              =Rp. 4.100.000

Selisih surplus antara penerimaan dan pengeluaran adalah Rp. 200.000. Nah Rp. 200.000 ini disebut dengan ruang fiskal bagi keluaga Pak Dulah. Ini bebas dia gunakan. Tapi Pak Dulah tidak gunakan uang ini untuk konsumsi makan di mall atau piknik. Tapi ditabung untuk biaya investasi anak sekolah , juga biaya pendidikan Pak Dulah untuk kuliah lagi dan sebagian di gunakan meningkatkan modal bagi usaha rumahannya agar semakin besar peluang menghasilkan penerimaan. Berlalunya waktu semakin besar penerimaan, semakin besar kemampuan berhutang, maka Dulah membeli rumah agar biaya sewa tidak perlu ada lagi. Diapun memperluas usahanya menjadi pedagang kelontongan di pasar tradisional yang dibantu istrinya. Apalagi Pak Dulah sudah jadi sarjana berpeluang mendapatkan karir lebih baik.

Cerita tentang Pak Dulah ini pernah diterapkan oleh Jepang dan Korea ketika awal membangun setalah perang korea dan perang dunia kedua. Korea dan Jepang tidak punya sumber pendapatan yang bisa menutupi anggaran negaranya. Benar benar minus. Tapi AS memberikan pinjaman dalam rangka restorasi perang kepada Korea dan Jepang. PInjaman ini tidak di pakai untuk konsumsi tapi produksi dan investasi. Pemerintah berhutang lebih 300% dari PDB. Apakah akhirnya jepang dan korea bangkrut ? tidak. Malah berkat hutang dari AS itu mereka menjadi negara maju dengan tingkat pendapatan diatas rata rata negara berkembang. Artinya hutang berperan besar meningkat ekonomi dan kesejahteraan rakyat. Begitu pula dengan Pak Dulah yang sukses melewati hidup yang keras berkat hutang.

***
Ada lagi cerita. Pak Somad seorang Pegawai swasta. Gajinya sebulan Rp. 10.000.000. Tapi pengeluaran sebesar Rp. 13.000.000. Artinya defisit sebesar Rp. 3 juta rupiah. Somad sepakat dengan istrinya bahwa mereka akan berhutang maksimum sebesar 3 % dari total hartanya. Total hartanya Rp. 300 juta. Artinya mereka bisa berhutang maksimum sebesar Rp. 9 juta. Nah karena defisit hanya sebesar Rp. 3 juta atau 1 % dari harta maka mereka berani berhutang menutupi defisit. Tapi hutang itu tidak menyisakan ruang fiskal apapun. Karena semua hutang itu habis untuk belanja rutin.

Apa yang terjadi dari tahun ketahun hutang terus bertambah karena gali lobang tutup lobang. Akibatnya perbandingan antara hutang dengan harta mencapai 80%, Akhirnya terpaksa harta dijual untuk bayar hutang. Mengapa sampai begitu ? karena setiap berhutang habis untuk belanja rutin. Tidak tersisa untuk produksi yang bisa meningkatkan harta. Padahal apabila hutang bertambah namun harta produktif juga bertambah, maka rasio hutang terhadap harta tidak akan naik karena ada penghasilan tambahan menyertai harta produktif. Apa yang terjadi pada Somad, juga terjadi pada pemerintahan Bolivia, venezuela, Italia, Yunani. Defisit ditutupi dari hutang namun ruang fiskal sangat kecil sekali.

Sebetulnya yang terjadi di Era SBY hampir sama. Ruang fiskal tidak cukup untuk bangun bandara atau pelabuhan atau kawasan industri. Karena sebagian besar habis untuk konsumsi. Akibatnya sejak 2011 ketika penerimaan menurun belanja terus meningkat defisit ditutup dari hutang. Walau rasio defisit dibawah 3% dari PDB namun tidak ada peningkatan harta. Makanya perbandingan hutang terhadap PDB terus meningkat. Tapi untung di era Jokowi kebijakan anggaran diubah. Bagaimana perubahan itu?

Katakanlah penerimaan sebesar Rp. 100 juta rupiah. Pengeluaran Rp. 120 juta. Artinya defisit sebesar Rp. 20 juta. Kalau PDB sebesar Rp, 1 miliar maka perbanding defisit terhadap PDB sebesar 2%. Ini jelas aman dibawah pagu 3% yang ditetapkan oleh DPR. Tapi tidak ada ruang fiskal untuk produksi dan investasi yang dilakukan Jokowi untuk ekspansi. Kalau Jokowi pertahankan platform APBN seperti SBY maka tidak akan ada pembangunan insfrastruktur. Lambat namun pasti Indonesia akan terjebak hutang tanpa ada peningkatan PDB secara significant. Keputusan yang diambil adalah pemangkasan belanja rutin. Tapi penerimaan juga menurun karena krisis global. Memang tidak ada defisit setelah pemangkasan anggaran itu. Tapi juga tidak ada ruang fiskal untuk ekspansi. Sementara hutang masa lalu harus terus dibayar sebagai belanja rutin.

Nah agar bisa ekspansi maka pos pengeluaran ditambah lagi sebesar ruang fiskal yang di inginkan agar pertumbuhan ekonomi terjadi. Dampaknya APBN jadi defisit. Defisit ini ditutupi dari hutang. Tapi semua hutang digunakan untuk investasi yang bisa memacu produksi dan peningkatan pendapatan. Apa yang terjadi ? Walau hutang bertambah tapi harta ( PDB) juga bertambah, dan rasio hutang terhadap PDB juga tidak berpengaruh significant. Apa yang dilakukan oleh Jokowi kurang lebih sama dengan Dulah tapi Jokowi masih lebih baik karena masih ada harta. Beda dengan Dulah yang mengawali dari nol atau defisit gigantik. Kuncinya sama halnya dengan Dulah, bukan seberapa besar hutang atau rasio hutang tapi sejauh mana focus kepada produksi bukan konsumsi, Makanya kerja keras dan efisien adalah keniscayaan dan sukses akan terjadi sebagaimana sunatullah.

Mendekati Tuhan.


Di suatu pagi yang cerah , diteras Hotel ketika sarapan pagi saya terlibat pembicaraan santai dengan teman. Sedikit saya cerita, teman ini Yahudi tulen. Dia mengharamkan babi, dan miras. Dia juga termasuk wanita yang sangat menjaga moral. Sangat santun kepada orang lain. Sangat menjaga komitmen bisnis. Kadang terkesan naif. Karena dia tidak bisa bernegosiasi penuh hospitality seperti SPG. Tapi saya suka dengan dia karena sebagai banker dia memang enak diajak diskusi. Dan tentu cantik. Demikian tentang dia.

“ Bisnis apa yang sangat mudah mendatangkan uang ? Katanya dengan raut serius. “Mana ada sekarang yang mudah mendatangkan uang. Semua sedang susah. Krisis.” kata saya dengan cuek.

“ Dulu tahun 32 an ketika terjadi great depresi dunia, semua orang terpuruk. Tapi etnis Yahudi menemukan titik lompatan terbaik dalam sejarah. Sampai kini kami memimpin peradaban dunia kapitalis. “ katanya.

“ Mengapa ? “ Kata saya terkejut

“ Kalau ingin lihat bagaimana kaum terbaik di planet ini maka lihatlah ketika krisis. Kalau mereka bisa unggul maka dialah sesungguhnya terbaik” Katanya dengan ciri khas Yahudinya.

“ Ok , saya bisa pahami. Tapi apa yang dilakuka Yahudi ketika krisis itu ?

“ Ketika krisis, banyak rumah tangga oleng, banyak orang muda dan lajang memadati cafe dan Bar, banyak orang memenuhi tempat ibabah. Semua berusaha mencari pengalihan masalah hidupnya yang takut mati kelaparan, takut rumah tangga hancur, takut dengan masa depan. Mereka juga menemukan cara membenci siapa saja termasuk pemerintah. Semua itu membuat mereka bisa bertahan dari kegagalan dan kekecewaan hidup. “

“ Dan Yahudi?

“ Kami mendapatkan keuntungan dari keadaan itu. “

“ Bagaimana ?

“ Kami tidak menjual miras dan tidak juga mengkonsumsinya tapi memproduksinya dan orang lain yang melakukannya dengan memadati Bar dan Cafe. Ketika mimbar kotbah ditempat ibadah semakin padat pengunjung sebagai seni panggung menghibur orang menemukan fantasinya lewat firman Tuhan. Kami menerbitkan banyak buku agama dari sang pengkotbah. Kami juga mengundang pengkotbah untuk memberikan siaran rohani di Radio. Semua itu mendatangkan uang dari penerbitan buku dan Iklan Radio. Dari itu semua kami mendapatkan kekayaan dan survive ditengah krisis. “

“ Oh. Paham saya. Tapi bagaimana kalau tidak ada krisis ?

“ Kembali kami memprovide bisnis fantasi. Orang kaya atau orang miskin sama sama suka fantasi. Hanya sudut pandang saja yang berbeda. Orang kaya yang miskin jiwa, suka berfantasi tentang kekayaan jiwa. Mereka menjadi konsumtif apa saja yang bisa memuaskan jiwanya. Orang china membangun pabrik dengan upah murah, dan hasilnya hanya laba kecil. Kami tidak membangun pabrik besar tapi menciptakan merek besar agar 1000 unit harga produksi china setara dengan 1 unit produk bermerek kami punya. Semua barang di etalage bermerek mahal ada disetiap outlet mewah dan selalu dipadati oleh orang yang ingin mendapatkan fantasi itu.

Orang miskin harta ditengah kerumunan orang kaya selalu ingin mendapatkan fantasi kekayaan harta. Tempat ibadah ramai di kunjungi orang dan para mentor menanamkan fantasi sorga kepada mereka. Bahwa kekayaan harta di sorga tak terbilang besarnya dibandingkan dengan kehidupan dunia. Dan kami mengundang pengkotbah ke stasiun TV untuk acara Talk show, yang mendatangkan uang iklan tak terbilang. Dari kegiatan on air , juga off air yang terorganisir oleh EO hebat, juga mendatang iklan dan sponsor tak terbilang. Kami menjadi mitra hebat bagi para pengkotbah itu. “ Katanya.

“ Selalu ada cara mendatangkan laba”

“ Dan …” Katanya ingin melanjutkan karena merasa saya tercerahkan

“ Apa lagi ?

“ Ketika dunia semakin sesak. Manusia semakin sulit bertatap muka. Individualisme terbangun dengan sendirinya. Semua diukur dengan pamrih. Pada saat itu kami menyediakan IT sistem yang dilengkapi jarigan sosial media , agar orang menciptakan ilusi terhadap dirinya sendiri, dan mengejek dirinya sendiri lewat postingan masturbasi kebahagiaan dan penderita, kemarahan , kekecewaan. Itu hanya dunia maya dan orang ramai tidak menyadari itu adalah maya, dan mereka baper. Akibatnya interaksi semakin meluas, meningkatkan traffic gateway internet membuat bisnis telekomunikasi untung besar, perusahaan software kaya raya tanpa harus melibatkan buruh jutaan orang dan pemasaran tercipta dengan sendirinya untuk terus tumbuh bisnis semacam ini.”

“ Ah….begitu?

“ Dan, ketika krisis financial global terjadi. Kepercayaan orang kaya runtuh kepada institusi keuangan. Tapi kami menyediakan private fund business, yang menjadi agent beragam produk investasi dan mengontrol bursa. Hampir semua negara didunia kini tergantung kepada sistem pembiayaan dari private fund. Kami tidak menguasai dunia tapi kami mengontrol dunia. Tak perlu senjata dan pasukan teroris berani mati, tapi cukup memanfaatkan sifat orang banyak yang mengaku beriman tapi tak berTuhan. Mengaku bergama tapi tak beriman ” Katanya tersenyum.

“ Maksud kamu ?

“ Kalau orang banyak sadar akan Tuhan, bisnis fantasi dalam bentuk apapun tidak akan laku, bahkan kotbah yang mendatangkan donasi akan dijauhi orang. Kalau orang ber-Agama, dia tidak mendapatkan kebahagiaan dari materi dan kotbah agama tapi dari semangat memberi dan berbuat untuk memberi. “

“ Ya semakin orang malas memberi semakin dia menjauh dari Tuhan dan semakin kehilangan nilai nilai agama. Tentu semakin mudah dimangsa oleh predator. “

“ Dan ingat…” Katanya lagi. Tapi kali ini dia tersenyum.

“ Karena orang malas memberi , bisnis bank dan private fund semakin mudah mendatangkan laba tanpa harus kerja keras. Dan kami kuasai itu. “
***
Kita tidak disuruh memerangi iblis, bahkan tidak berhak membinasakan iblis. Karena iblis adalah ciptaan Tuhan. Tapi kita diminta oleh Tuhan untuk menghindari iblis. Caranya? Dekatlah kepada Tuhan. Dengan dekat kepada Tuhan maka iblis tidak akan berani menjangkau pikiran dan hati kita untuk memprovokasi kita menjauh dari Tuhan. KIta tidak diminta membenci manusia termasuk Yahudi. Tapi kita diminta menghindari sifat tamak dan lemah iman dengan cara dekat kepada Tuhan. Selagi kita dekat kepada Tuhan dan hanya Tuhan tempat berlindung maka apapun provokasi hidup yang menawarkan fantasi akan kita hindari. Akal kita berperan untuk mudah mengetahui bahwa itu omong kosong.

Pahamkan sayang

Senin, 21 Agustus 2017

Dul yang cerdas dan bijak...


Ada keluarga yang kaya karena berkah warisan dari orang tua yang telah meninggal. Mereka ada 7 bersaudara. Ketika orang tua meninggal, putra tertua, menjadi kepala keluarga. Kerjaannya hanya euforia sebagai pewaris keluarga kaya. Namun euforia memberikan semangat kepada keluarga besar bahwa masa depan mereka akan lebih baik dari orang tuanya. Sehari hari keluarga hanya hidup dari tanah dan ladang pertanian. Kaya tapi tetap miskin. Usul agar indonesia membangun ekonomi lewat hutang dan kemitraan dengan pihak luar ditolak oleh kepala keluarga. Kalaupun berhutang itu hanya untuk meningkatkan pride dengan proyek marcusuar.Sementara kepala keluarga semakin dihormati dan dicintai oleh keluarga besar. Cintanya melimpah kemana mana sampai membuat banyak wanita jatuh cinta. Akhirnya putra kedua kesal. Lewat proses konspirasi dengan anggota keluarga lainnya, putra tertua di singkirkan. Dan akhirnya meninggal dalam kesepian.

Putra kedua menggantikan posisi sebagai kepala keluarga. Ekonomi keluarga mulai dibenahi. Anggota keluarga anak dan cucu disiapkan dengan pendidikan dan fasilitas modern. Namun itu didapat dari hutang. Bukan hutang menggadaikan harta keluaga. Tapi hutang dalam kemitraan. Tetangga sebelah mengolah tanah dan ladang, sementara hasilnya dibagi. Selama ladang belum menghasilkan, keluarga mendapatkan pinjaman dari tetangga. Kelak hutang itu dibayar dari bagi hasil yang didapat. Enak kan.? Cerdas kan. ? Karena biaya semakin meningkat sementara bagi hasil tidak seperti diharapkan, maka hutang terus digali. Apalagi tetangga sebelah tidak pernah menolak untuk memberi pinjaman selagi mereka bisa terus mengolah ladang. Disisi lain, anggota keluarga seperti anak dan saudara mulai melihat peluang lain dari bisnis kemitraan yang melipah. Mereka minta konsesi dari kepala keluarga agar bisa mengolah lahan itu. Tapi bukan mereka yang olah. Yang olah tetap tetangga. Mereka hanya duduk , bermalasan dan dapat komisi dari tetangga. Karena itu semua anggota keluarga merasa happy.

Lambat laun anggota keluarga semakin bertambah. Anak bertambah, menantu bertambah. Semua tinggal di satu rumah besar. Sampai satu saat anggota keluarga lain merasa kesal dengan kepala keluarga. Karena dia lebih mengutamakan anak dan keluaga istrinya saja. Maka dari sikap ini, anggota keluarga yang lainnya bersepakat untuk menjatuhkan posisi kakak kedua sebagai kepala keluarga. Akhirnya jatuh juga berkat bantuan anak dan cucu dari keluarga besar. Dampaknya membuat tetatangga sebelah jadi takut meneruskan kemitraan. Hutang mulai ditagih dan sumber pendapatan kering. Selanjutnya posis kepala keluarga jatuh kepada kakak nomor tiga. Tapi tidak berumur panjang. Karena kas kosong. Untuk bayar huang dia menggali hutang lagi, dan lagi dia terpilih bukan kehendak mayoritas keluarga. Posisi kepala keluarga berikutnya di pegang oleh kakak nomor 4. Tapi karena dia cacat dan sikap hidupnya yang anti hutang, diapun akhirnya jatuh juga. Dia gantikan dengan kakak nomor 5. Seorang perempuan. Walau tidak lagi berhutang tapi kerjaanya menjual harta untuk makan. Diapun jatuh karena kehendak mayoritas keluarga memilih kakak nomor enam sebagai pengganti kepala keluarga.

Kepala keluarga nomor enam, walau sikapnya lebih demokratis namun apa yang dia lakukan tak ubahnya dengan kakak nomor dua. Kemitraan dengan tetatangga sebelah diperkuat lagi, bahkan ditingkatkan. Dari pendapatan bagi hasil dengan tetangga, dia bagikan kepada anggota keluarga. Dengan cara ini dia mampu merebut hati anggota keluarga. Tapi tidak ada perkembangan nyata terhadap ekonomi keluarga. Mengapa ? Pendapatan bagi hasil dibagi kepada anggota keluarga baik secara langsung maupun dengan cara culas. Sementara belanja rutin keluarga dia berhutang. Akhirnya diapun digantikan oleh kakak nomor 7. Namanya Dulah. Dia terpilih dengan setengah hati oleh seluruh anggota keluarga. Namun berkat dukungan kakak perempuan dia berhasil naik sebagai kepala keluarga. Nah bagaimana sikapnya mengatasi kelangsungan keluarga besar ?

Sebagai Kepala keluarga, kakak nomor 7 menegaskan perlunya kemandirian. Tidak ada lagi kerjasama dengan tetangga sebelah karena alasan hutang. Hutang akan dibayar lunas secara angsuran selama lima tahun. 
" Bagaimana cara membayar hutang itu? tanya anggota keluarga lain.
" Caranya ya setiap anggota keluarga harus sokongan membayar hutang itu. Bukankah kalian sudah kaya raya karena fasilitas dari kakak kakak sebelumnya yang jadi kepala keluarga."
" Ok lah. Terus bagaimana memenuhi biaya rutin keluarga? Bukankah setiap tahun biaya terus meningkat?
" Saya akan buka bisnis. Dari bisnis inilah kita akan dapatkan sumber pembiayaan keluarga."
" terus modalnya dari mana ?
" Ya hutang , ya kerjasama. Banyak cara, yang penting engga ada lagi hutang untuk belanja. Hutang hanya untuk bisnis yang bisa menghasilkan income. Dari income inilah kita tingkat kesejahteraan keluarga, dan kita mandiri."
" Baik kami setuju. " Kata anggota keluarga.
" Tapi ada syarat ?
" Apa ?"
" Karena tidak ada lagi hutang atas dasar adanya kemitraan dengan tetangga maka kita harus tampil professional agar dipercaya sama orang lain. Jadi, tidak ada lagi anggota keluarga yang kerjaannya jadi calo harta keluarga dengan tetangga sebelah. Apapun bisnis di lakukan harus terbuka, dan semakin besar laba semakin besar sokongan kepada keluarga besar." 
Anggota keluarga lain terdiam dan pening kepalanya. Sejak itu walau mereka menerima kakak nomor 7 sebagai kepala keluarga namun benih benih kebencian mulai tumbuh. Mengapa ? karena kepala keluaga merampas bisnis mereka sebagai calo.

Benarlah , setelah tiga tahun berkuasa , kepala keluarga bisa mengangsur hutang belanja sejak era kakak nomor 1 sampai dengan nomor enam. Caranya semakin keras. Harta anggota keluarga yang disimpan di luar negeri diburu dan dimaafkan asalkan bayar kontribusi kepada keluarga besar. Kini sudah 60% hutang belanja dilunasi. Diperkirakan dua tahun lagi hutang belanja lunas. Yang ada kini adalah utang bisnis. Semakin besar utang bisnis semakin menunjukan kemampuan bisnis kepala keluarga mendatangkan laba, dan membuat semua orang happy. Mengapa? karena rasio hutang tetap rendah atau dibawah pagu hutang rasional. itu semua karena laba tidak dibancaki tapi di kembalikan ke keluaga besar dalam bentuk investasi. Sehingga nilai kekayaan keluarga terus meningkat seiring meningkatnya hutang bisnis. Itu semua karena semakin tingginya tingkat kepercayaan kepada keluarga.

Demikianlah kisah kelurga besar, yang sukses karena belajar dari kesalahan masalalu. Bagi mereka yang sadar adanya perubahan akan diuntungkan , yang engga sadar tetap aja bego...dan ngeluh engga ada habis habisnya. SI Dul sebagai kepala keluarga, memang cerdas namun bijak. Cerdas karena tahu potensi anggota keluaga. Bijak karena tidak menjadikan kesalahan masa lalu sebagai kutukan tapi mengambil hikmah agar lebih baik dimasa datang.