Senin, 21 Agustus 2017

Dul yang cerdas dan bijak...


Ada keluarga yang kaya karena berkah warisan dari orang tua yang telah meninggal. Mereka ada 7 bersaudara. Ketika orang tua meninggal, putra tertua, menjadi kepala keluarga. Kerjaannya hanya euforia sebagai pewaris keluarga kaya. Namun euforia memberikan semangat kepada keluarga besar bahwa masa depan mereka akan lebih baik dari orang tuanya. Sehari hari keluarga hanya hidup dari tanah dan ladang pertanian. Kaya tapi tetap miskin. Usul agar indonesia membangun ekonomi lewat hutang dan kemitraan dengan pihak luar ditolak oleh kepala keluarga. Kalaupun berhutang itu hanya untuk meningkatkan pride dengan proyek marcusuar.Sementara kepala keluarga semakin dihormati dan dicintai oleh keluarga besar. Cintanya melimpah kemana mana sampai membuat banyak wanita jatuh cinta. Akhirnya putra kedua kesal. Lewat proses konspirasi dengan anggota keluarga lainnya, putra tertua di singkirkan. Dan akhirnya meninggal dalam kesepian.

Putra kedua menggantikan posisi sebagai kepala keluarga. Ekonomi keluarga mulai dibenahi. Anggota keluarga anak dan cucu disiapkan dengan pendidikan dan fasilitas modern. Namun itu didapat dari hutang. Bukan hutang menggadaikan harta keluaga. Tapi hutang dalam kemitraan. Tetangga sebelah mengolah tanah dan ladang, sementara hasilnya dibagi. Selama ladang belum menghasilkan, keluarga mendapatkan pinjaman dari tetangga. Kelak hutang itu dibayar dari bagi hasil yang didapat. Enak kan.? Cerdas kan. ? Karena biaya semakin meningkat sementara bagi hasil tidak seperti diharapkan, maka hutang terus digali. Apalagi tetangga sebelah tidak pernah menolak untuk memberi pinjaman selagi mereka bisa terus mengolah ladang. Disisi lain, anggota keluarga seperti anak dan saudara mulai melihat peluang lain dari bisnis kemitraan yang melipah. Mereka minta konsesi dari kepala keluarga agar bisa mengolah lahan itu. Tapi bukan mereka yang olah. Yang olah tetap tetangga. Mereka hanya duduk , bermalasan dan dapat komisi dari tetangga. Karena itu semua anggota keluarga merasa happy.

Lambat laun anggota keluarga semakin bertambah. Anak bertambah, menantu bertambah. Semua tinggal di satu rumah besar. Sampai satu saat anggota keluarga lain merasa kesal dengan kepala keluarga. Karena dia lebih mengutamakan anak dan keluaga istrinya saja. Maka dari sikap ini, anggota keluarga yang lainnya bersepakat untuk menjatuhkan posisi kakak kedua sebagai kepala keluarga. Akhirnya jatuh juga berkat bantuan anak dan cucu dari keluarga besar. Dampaknya membuat tetatangga sebelah jadi takut meneruskan kemitraan. Hutang mulai ditagih dan sumber pendapatan kering. Selanjutnya posis kepala keluarga jatuh kepada kakak nomor tiga. Tapi tidak berumur panjang. Karena kas kosong. Untuk bayar huang dia menggali hutang lagi, dan lagi dia terpilih bukan kehendak mayoritas keluarga. Posisi kepala keluarga berikutnya di pegang oleh kakak nomor 4. Tapi karena dia cacat dan sikap hidupnya yang anti hutang, diapun akhirnya jatuh juga. Dia gantikan dengan kakak nomor 5. Seorang perempuan. Walau tidak lagi berhutang tapi kerjaanya menjual harta untuk makan. Diapun jatuh karena kehendak mayoritas keluarga memilih kakak nomor enam sebagai pengganti kepala keluarga.

Kepala keluarga nomor enam, walau sikapnya lebih demokratis namun apa yang dia lakukan tak ubahnya dengan kakak nomor dua. Kemitraan dengan tetatangga sebelah diperkuat lagi, bahkan ditingkatkan. Dari pendapatan bagi hasil dengan tetangga, dia bagikan kepada anggota keluarga. Dengan cara ini dia mampu merebut hati anggota keluarga. Tapi tidak ada perkembangan nyata terhadap ekonomi keluarga. Mengapa ? Pendapatan bagi hasil dibagi kepada anggota keluarga baik secara langsung maupun dengan cara culas. Sementara belanja rutin keluarga dia berhutang. Akhirnya diapun digantikan oleh kakak nomor 7. Namanya Dulah. Dia terpilih dengan setengah hati oleh seluruh anggota keluarga. Namun berkat dukungan kakak perempuan dia berhasil naik sebagai kepala keluarga. Nah bagaimana sikapnya mengatasi kelangsungan keluarga besar ?

Sebagai Kepala keluarga, kakak nomor 7 menegaskan perlunya kemandirian. Tidak ada lagi kerjasama dengan tetangga sebelah karena alasan hutang. Hutang akan dibayar lunas secara angsuran selama lima tahun. 
" Bagaimana cara membayar hutang itu? tanya anggota keluarga lain.
" Caranya ya setiap anggota keluarga harus sokongan membayar hutang itu. Bukankah kalian sudah kaya raya karena fasilitas dari kakak kakak sebelumnya yang jadi kepala keluarga."
" Ok lah. Terus bagaimana memenuhi biaya rutin keluarga? Bukankah setiap tahun biaya terus meningkat?
" Saya akan buka bisnis. Dari bisnis inilah kita akan dapatkan sumber pembiayaan keluarga."
" terus modalnya dari mana ?
" Ya hutang , ya kerjasama. Banyak cara, yang penting engga ada lagi hutang untuk belanja. Hutang hanya untuk bisnis yang bisa menghasilkan income. Dari income inilah kita tingkat kesejahteraan keluarga, dan kita mandiri."
" Baik kami setuju. " Kata anggota keluarga.
" Tapi ada syarat ?
" Apa ?"
" Karena tidak ada lagi hutang atas dasar adanya kemitraan dengan tetangga maka kita harus tampil professional agar dipercaya sama orang lain. Jadi, tidak ada lagi anggota keluarga yang kerjaannya jadi calo harta keluarga dengan tetangga sebelah. Apapun bisnis di lakukan harus terbuka, dan semakin besar laba semakin besar sokongan kepada keluarga besar." 
Anggota keluarga lain terdiam dan pening kepalanya. Sejak itu walau mereka menerima kakak nomor 7 sebagai kepala keluarga namun benih benih kebencian mulai tumbuh. Mengapa ? karena kepala keluaga merampas bisnis mereka sebagai calo.

Benarlah , setelah tiga tahun berkuasa , kepala keluarga bisa mengangsur hutang belanja sejak era kakak nomor 1 sampai dengan nomor enam. Caranya semakin keras. Harta anggota keluarga yang disimpan di luar negeri diburu dan dimaafkan asalkan bayar kontribusi kepada keluarga besar. Kini sudah 60% hutang belanja dilunasi. Diperkirakan dua tahun lagi hutang belanja lunas. Yang ada kini adalah utang bisnis. Semakin besar utang bisnis semakin menunjukan kemampuan bisnis kepala keluarga mendatangkan laba, dan membuat semua orang happy. Mengapa? karena rasio hutang tetap rendah atau dibawah pagu hutang rasional. itu semua karena laba tidak dibancaki tapi di kembalikan ke keluaga besar dalam bentuk investasi. Sehingga nilai kekayaan keluarga terus meningkat seiring meningkatnya hutang bisnis. Itu semua karena semakin tingginya tingkat kepercayaan kepada keluarga.

Demikianlah kisah kelurga besar, yang sukses karena belajar dari kesalahan masalalu. Bagi mereka yang sadar adanya perubahan akan diuntungkan , yang engga sadar tetap aja bego...dan ngeluh engga ada habis habisnya. SI Dul sebagai kepala keluarga, memang cerdas namun bijak. Cerdas karena tahu potensi anggota keluaga. Bijak karena tidak menjadikan kesalahan masa lalu sebagai kutukan tapi mengambil hikmah agar lebih baik dimasa datang.

Jumat, 18 Agustus 2017

Belajar dari Tan Malaka


Pada suatu waktu , saya ada kesempatan berdiskusi dengan teman yang juga adalah pejabat China. Yang membuat saya kagum adalah pemahamannya tentang pemikiran Tan Malaka begitu hebatnya. Saya tahu karena yang dibahasnya itu buku tulisan Tan Malaka yang berjudul Madilog ( (materialisme, dialektik dan logika). Menurutnya bahwa China di era Mao, pernah terjebak dengan komunisme ala Rusia, dan itu membuat china gelap selama lebih dari seperempat abad dengan korban rakyat kelaparan puluhan juta ketika revolusi kebudayaan.

Tan Malaka punya sudut pandang sangat berbeda dari komunismenya Marx. Meskipun isi Madilog sebagian besar mengikuti materialisme dialektik Friedrich Engels. Siapa Friedrich Engels? Ia adalah sahabat karib Karl Marx yang memperlengkap filsafat sosial Marx dengan filsafat alam dan ontologi materialis yang kemudian akan menjadi dasar filosofis Marxisme-Leninisme. Tapi Madilog bukan semacam "ajaran partai" atau "ideologi proletariat", bukan. Bahkan sangat ekstrim bahwa Madilog tidak setuju dengan pemikiran Marxisme-Leninisme yang senantiasa menuntut ketaatan mutlak terhadap Partai Komunis, alias pimpinannya. Madilog menolak segala bau ideologis, menolak jargon ortodoksi partai yang tahu segala-galanya. Madilog adalah imbauan seorang nasionalis sejati pada bangsanya untuk ke luar dari keterbelakangan dan ketertinggalan.

Maosedong walau terlambat tapi bisa menerima ide dari istrinya untuk melakukan koreski komunisme lenis dan mengikuti pemikiran Tan Malaka. Bahwa kemunduran China dan akhirnya di kalahkan dengan pihak asing karena terbelenggu dalam keterbelakangan oleh "logika mistika". "Logika mistika" adalah logika gaib, di mana orang percaya bahwa apa yang terjadi di dunia adalah kerjaan kekuatan-kekuatan keramat di alam gaib. Logika gaib melumpuhkan orang karena, daripada menangani sendiri tantangan yang dihadapinya, ia mengharapkannya dari kekuatan-kekuatan gaib itu. Daripada berbuat dan berusaha, ia mengadakan mantra, sesajen dan doa-doa. Revolusi kebudayaan CHina berhasl memberangus pemikiran mistik itu. Makanya dia heran ketika berkunjung ke Indonesia, orang masih terjebak dengan pemikiran mistik itu. Padahal Tan Malaka sebagai putra Indonesia terlahir dari Sumatera Barat mengatakan dalam pemikirannya bahwa selama bangsa Indonesia masih terkungkung oleh logika gaib itu, tak mungkin ia menjadi bangsa yang merdeka dan maju. Jalan ke luar dari logika gaib adalah "madilog", materialisme, dialektik dan logika. Mirip dengan August Comte, sang bapak positivisme seratus tahun sebelumnya.

Mari kita perhatikan pemikiran Tan Malaka. Dari "logika mistika" lewat "filsafat" ke "ilmu pengetahuan" atau “sains”.

Materialisme.
Orang Indonesia itu sangat suka melihat segala peristiwa di alam ini dengan pemikiran cocok logi, yang berbau takhyul. Kita tidak terbiasa melihat persoalan dengan akal yang mengundang kita untuk mencari tahu mengapa terjadi. Jadi kita tidak terbiasa mempelajari sesuatu yang realitas dengan dasar keilmuan. Makanya engga aneh bila orang mudah percaya dengan penggandaan uang. Mudah ditipu dengan endorsement orang lain akan sorga yang dijanjikan. Padahal Sorga itu hak Tuhan, dan tidak ada satupun manusia bisa mengedorse orang lain bisa masuk sorga.

Jadi yang dimaksud dengan materialisme Tan, bukan pertama-tama pandangan filosofis bahwa segala yang ada itu adalah materi atau berasal dari materia, melainkan keterarahan perhatian manusia pada kenyataan, terkosepsikan dengan khayalan dan takhayul. Artinya daripada mencari penyebab segala kejadian di alam gaib soal sorga neraka, carilah penyebah terhadap realita yang ada pada diri sendiri. Daripada menganggap miskin dekat dengan sorga, mengapa tidak mencari sebab kemiskina itu terjadi pada diri sendiri. Selidikilah realitas material dan itu berarti: pakailah ilmu pengetahuan!

Dialektika 
Dunia ini berubah dan satu satunya yang tidak berubah adalah perubahan itu sendiri. Mengapa ? dengan rendah hati Tan Malaka menyatakan bahwa dialektika berarti bahwa realitas tidak dilihat sebagai sejumlah unsur terisolasi yang sekali jadi lalu tak pernah berubah. Dialektika mengatakan bahwa segala sesuatu bergerak maju melalui langkah-langkah yang saling bertentangan. Khususnya ia menyebutkan dua "hukum" dialektika: "hukum penyangkalan dari penyangkalan" dan "hukum peralihan dari pertambahan kuantitatif ke perubahan kualitatif”. Jadi memaksakan pemikiran itu absolut pasti terbelakang secara intelektual. Dan pasti stress kalau ada yang menyangkal.

Logika 
Tan malaka menegaskan bahwa logika tidak dibatalkan oleh dialektika, melainkan tetap berlaku dalam dimensi mikro. Tan Malaka justru menunjukkan bahwa pemikiran logis, dengan paham dasar dialektis, membebaskan ilmu pengetahuan untuk mencapai potensialitas yang sebenarnya. Logika gaib seharusnya dilawan dengan logika yang sebenarnya dan karena itu perubahan terjadi, keberadaan Tuhan di agungkan.

***
Teman saya dari China lagi lagi membuat saya terkejut “ Tan Malaka telah dapat meramalkan keadaan kemasyarakatan secara luas ditinjau dari sudut pandang budaya dan politik. Tan Malaka mengatakan dalam Madilog-nya : Indonesia tak akan pernah benar-benar bebas apabila masih terkungkung pada pemikiran gaib, irasional dan percaya akan hal-hal tahayul lainnya. Bagi China itu pemikiran yang hebat. Karena budaya china dan Indonesia lebih banyak miripnya daripada bedanya. Walau Tan Malaka tidak pernah membahas tentang adat dan budaya bangsa Indonesia namun dia mengajak orang untuk tidak perlu memilih pemimpin karena faktor keturunan dan dengan embel embel dia titisan dewa ( atau penerus Rasul ). Ada faktor-faktor yang lebih penting memilih seorang jadi pemimpin yaitu seperti sumbangsih pemikiran dan kepeduliannya, kepintaran dan intelektualitas. Tan Malaka ingin mengajak orang agar lebih partisipatif dan meninggalkan segala hal berbau irasionalitas dan budaya pembodohan yang ada dan marak terjadi di Indonesia baik dalam politik, budaya maupun ekonomi.

Ada yang luar biasa dari Tan Malaka bahwa dia mengajak kita berpikir secara ilmiah berdasarkan fakta. Tidak berpikir sektoral atau wilayah. Mengajak kita berpikir futuristik dan bersikap mandiri, konsekwen dan konsisten. Itu semua dia tuangkan gagasan-gagasannya ke dalam sekitar 27 buku, brosur dan ratusan artikel di berbagai surat kabar terbitan Hindia Belanda. Karya besarnya Madilog juga mengajak dan memperkenalkan kepada bangsa Indonesia cara berpikir ilmiah bukan berpikir secara kaji atau hafalan, bukan secara “Text book thinking” atau bukan dogmatis dan bukan doktriner. China mampu melakukan transformasi dari politik apa kata patron dan dokrin politik totaliter menjadi politik emansipasi. Revolusi kebudayaan China adalah kado terindah dari bapak Maosedong kepada generasi China masa depan, dan karena itu China bisa menjadi negara besar. Mereka belajar dari pemikiran Tan Malaka. 

" Bagaimana keluarga bisa melahirkan putra sehebat itu? tanya teman dari China. 
Dengan tersenyum saya katakan " Tan lahir dari keluarga muslim yang taat dan adat minang yang indah. Dalam usia belia sudah hafal Al Quran. Namun dia berkembang dari pemikiran islam moderat, bukan islam puritan pakai baju gamis dan celana cingkrang. Pasih dalam 6 bahasa dan terpelajar jago berdebat namun tetap tidak merendahkan orang lain. Itu budaya kami dan begitu agama mendidik kami. "
" Tapi mengapa Indonesia tidak belajar dari Tan ?
" Kami belajar dan di era Jokowi kami terapkan itu."
" Ya saya melihat itu ketika Jokowi berkunjung ke China. Dia pernah bilang, kami bisa melebih china dan itu tidak perlu lama dan tidak perlu ada revolusi kebudayaan.Karena kami punya Pancasila."

Rabu, 16 Agustus 2017

TEGUH DALAM PENDIRIAN


Pernah teman cerita ketika dia masih muda sebelum menikah dia bekerja sebagai PNS. Pacarnya sangat senang dengan statusnya sebagai PNS. Namun hanya tiga tahun sebagai PNS, dia memilih berhenti.Pacarnya panik. Dia jelaskan alasannya berhenti bahwa dia tidak bisa menerima kenyataan bila harus ikut arus teman temanya di kantor. Mark up proyek dan manipulasi administrasi serta mendapatkan uang bawah meja adalah irama aktifitas kerja yang harus disaksikan setiap hari dan dia ada didalam lingkungan itu. Kebetulan dia bersikap keras ketika duduk dalam posisi “ basah “ dan akhirnya di singkirkan. Tapi pacarnya bilang dia bodoh, dan ingin mengubah keadaan dengan idealismenya. Teman itu tidak peduli dengan sikap pacarnya. Akhirnya pacarnya minta putus. Pernikahan gagal.

Saya terkejut dengan ceritanya. Saya ingin tahu apa dasar dia bersikap pragmatis itu ? Awalnya dia ingin jadi PNS karena ingin mengabdikan keahlianya sebagai Sarjana Ekonomi. Tapi setelah 3 tahun dia bekerja, dia merasa berada dalam putaran kencang yang bisa menyeretnya kedalam lubang kenistaan. “ Ketika itu tahun 80an saya masih muda. Iman belumlah kuat benar. Saya merasa tidak mungkin menjadi hero dan pasti gagal kalau ingin bertahap di lingkungan brengsek. Dengan menyadari itu, saya memilih menghindar medan tempur. Bukan takut tapi tidak mau konyol “ Tapi bagaimana sampai terlalu besar resiko sampai kehilangan pekerjaan dan akhirnnya kehilangan pacar ? Dia dengan tegas mengatakan, kalau pacarnya tidak menghargai sikapnya bagaimana mungkin dia bisa menjadi suami yang baik. Sikapnya adalah repliksi pribadinya, yang percaya kepada Tuhan. Apakah salah bila dia patuh dan percaya dengan aturan Tuhan? dan dia tidak perlu jadi orang lain untuk di hargai. Apakah pacarnya lebih suka menikahinya dengan pribadi orang lain? Dia merasa pacarnya tidak mencintai dirinya tapi lebih mencintai dirinya sendiri. Hidup senang dari hasil kerja kerasnya menjadi orang lain.

Lebih dua tahun setelah berhenti sebagai PNS dia menganggur. Namun waktu menganggur itu dia gunakan ambil S2. Setelah tamat S2, dia membuka usaha konsultan dibidang akuntasi dan perpajakan. Suatu saat clients yang paling besar memberinya pekerjaan, memintanya mengatur laporan keuangan perusahaan agar pajak jadi rendah. Dia menolak. Bahkan ketika diancam oleh clients untuk keluar, dia juga tidak peduli. Dan akhirnya satu demi satu clients mundur. Dia kehilangan pendapatan sebagai konsultant pajak. Kehidupan rumah tangganya oleng. Apalagi ketika itu dia masih cicil rumah. Istrinya minta cerai. Dari kehancuran rumah tangga itu, dia bangkit lagi. Ketika itu paska krismon tahun 2000, banyak relasinya minta dia sebagai konsultan untuk ikut lelang asset BPPN dan ada juga minta membantu restruktur hutang. Tapi semua itu akhirnya dia tolak. Mengapa ? semua ingin menggunakan jasanya untuk menipu dan mencuri secara administrasi asset BPPN. Teman temannya kebanjiran order tapi dia malah sepi order.

Entah mengapa ada salah satu pengusaha dari Malaysia yang berminat membeli asset BPPN dan menujuknya sebagai konsultan. Clientnya dari malaysia itu awalnya tidak begitu percaya dengan reputasinya. Maklum kantor hanya dirumah BTN dan tidak punya SDM. Tapi dengan keakuratan proposal yang dibuatnya dan objectifitas yang tinggi, membuat clients tertarik dengan dia. Bukan hanya sebagai consultant tapi dipercaya sebagai direktur utama perusahaan yang akan mengambil alih asset BPPN itu. Dan dia diminta oleh clients untuk mengembangkan bisnis itu. Dia terima dengan suka cinta. Kini usianya sudah 58 tahun. Setahun lalu ia sudah pensiun sebagai ekesekutif. Perusahaan terus berkembang karena dia bisa mendidik kader yang hebat. Pemegang saham memberinya saham bonus sebagai hadiah pensiunnya. Putranya dari perkawinan pertama dan putrinya perkawinan keduanya sekarang sedang kuliah di luar negeri. Yang tertua sedang ambil PHD atas bea siswa dan yang kedua sedang ambil S2 juga beasiswa. Badannya tetap sehat tanpa ada penyakit serius.

Mempertahankan keyakinan dan kepercayaan itu tidak bisa dengan kata kata. Tidak bisa juga dengan amarah. Dunia ini memang tidak ramah. Karena Tuhan ciptakan dunia ini sebagai ladang ujian sepanjang usia. Kita tidak bisa membeci keadaan yang brengsek dan juga tidak dipaksa untuk mengubahnya. Tuhan hanya ingin kita bijak dengan keadaan itu untuk mengubah diri kita menjadi lebih baik. Caranya ya hijrah dari tempat yang buruk ketempat yang memungkinkan kita bisa berkembang menjadi lebih baik. BIla kita berjalan di jalan Tuhan maka pada akhirnya akan indah pada waktunya. Itu janji Tuhan…” demikian katanya.

Selasa, 08 Agustus 2017

Kereta Cepat, Jakarta Bandung


Dibawah ini ada ilustrasi sederhana untuk memahami investasi kereta cepat.
" Kami mengundang anda investasi kereta cepat Jakarta Bandung" Kata pemerintah.
" Pinjaman? Apa jaminannya ? Tanya investor jepang dan China.
" Tidak ada hutang dan tidak ada jaminan dari pemerintah."
" OK saya mundur " Kata jepang.
" Ok saya mau" Kata China.
" Syarat apa yang anda butuhkan ?Kata pemerintah kepada pihak China.
" Kami minta hak konsesi bukan hanya kereta cepat tapi juga TOD yang dilintasi oleh kereta itu." 
" Baik kami setuju. Tapi soal tarif kami yang tentukan. Dan pajak berlaku umum tanpa ada tax holiday, temasuk anda harus bayar PBB dan retribusi kepada PEMDA sebagai PAD. "
" Engga ada masalah "
" Anda juga harus melibatkan BUMN sebagai anggota konsorsium baik sebagai EPC maupun investor."
" Baik, engga ada masalah. Asalkan sama sama setor uang”
" BUMN tidak setor modal tapi anda yang setor dengan skema share loan "
" Engga ada masalah. Kalau komposisi saham wajar.?
" Lokal content harus minimal 50%.
" Engga ada masalah "
" Jadi apalagi yang anda inginkan ?
" Kami engga mau ikut campur pembebasan lahan. Kalau sudah bebas baru kami bayar. Kami juga tidak mau ada bisnis sejenis selama konsesi masih berlaku di jalur jakarta bandung. "
" Engga ada masalah. " Kata pemerintah.
" Closed deal “

***

Proyek kereta Cepat punya TOD ( Transit Oriented Developemen) di empat wilayah yaitu Halim, Krawang, Walini dan Gedebage. Keberadaan Meikarta di Cakarang adalah bagian dari pengaruh berganda dari adanya kereta cepat namun bukan TOD dari proyek kereta cepat jakarta bandung. Tentu mereka akan diberi jalan akses ke stasiun terdekat ke TOD. Dan tentu akan menaikan nilai jual dari investasi Meikarta. Kalau Meikarta yang berada diluar TOD saja berani investasi diatas mencapai Rp 278 triliun, apalagi daerah yang memang berada di TOD. Tentu dahsyat sekali Value jangka panjang lahan yang dilalui TOD.

Pembangunan TOD.
Di Halim akan dibangun tempat parker dan pusat perbelanjaan. Lahan untuk ini mencapai 25 hetar. Di Krawang lahan seluas 250 hektar akan dibangun pusat bisnis, block city dengan konsep iundstrialisasi.Di Walini seluas 1270 hektar akan dibangun pusat hiburan sekelas Disneyland, Legoland,Universal Studio, teater musical. Juga akan dilengkapi dengan Rumah sakit berkelas international ( Universitas Indonesia ) , pusat riset ( relokasi Pusat riset Serpong) , universitas ( relokasi ITB) dan market place untuk berang kerajinan tangan rakyat. DI Gedebage seluas 400 hektar akan di bangun Teknopolis ( Silicon valley Indonesia ) dan depo kereta cepat. Dengan adanya TOD dalam jangka panjang jumlah penumpang akan meningkat sehingga bisa melewati BEP.

Dari keuntungan TOD saja sudah lebih dari cukup mengembalikan dana investasi kereta cepat yang senilai Rp. 60 triliun. Karena kalau tadi tanah per M2 hanya berharga Rp. 200.000 di Walini dan Krawang namun setelah di jadi TOD akan bernilai sedikitnya Rp. 2 juta. Tanah di Halim tadinya Rp. 10 juta per M2, setela dibangun TOD nilainya akan jadi Rp. 50 juta. Juga di Gedebage , tanah yang tadinya Rp. 2 juta setelah jadi TOD nilainya akan mencapai Rp 20 juta. Hitunglah berapa luas TOD yang ada di empat wilayah itu ? Nilainya lebih dari cukup untuk mengembalikan investasi kereta cepat.

Sumber dana
Proyek ini mendapatkan sumber dana dari CDB ( china development bank ) melalui skema non recourse loan dengan tenor 40 tahun dan masa tenggang 10 tahun. Apa itu non recourse loan ? skema pinjaman dengan collateral projek itu sendiri ( SPC). Selama SPC belum bisa mengembalikan pinjaman maka SPC tidak boleh melakukan perikatan dengan pihak ketiga untuk tujuan mendapatkan tambahan modal atau pinjaman. Pinjaman diberikan CDB dengan LTV 75 % dan sisanya atau 25% equity dari perusahaan Special propose vehicle (SPV) yang merupakan konsorsium BUMN Indonesia dan china yang terdiri dari PT. Kereta Cepat Indonesia China, yang terdiri dari PT Wijaya Karya (Persero) Tbk, PT Kereta Api Indonesia (Persero), PT Jasa Marga (Persero) Tbk, dan PT Perkebunan Nusantara VIII. dan China Railway Corporation. Komposisi saham pada SPV adalah 60% konsorsium BUMN Indonesia dan 40 % China Railway Corporation.

Tapi karena DPR melarang BUMN menempatkan dana PMN maka mereka mendapatkan solusi dengan fasilitas Share holder loan. Collateral pinjaman ini adalah saham BUMN yang ada di SPV. Tapi ternyata cara ini juga tidak mudah. Akhirnya pemerintah mengistruksikan BUMN melepas saham ke pihak China sebesar 50% yang dikuasai sehingga BUMN hanya punya 10%. Jadi tidak menganggu neraca keuangan BUMN atau tidak akan mempengaruhi Debt to Equity Ratio (DER) dari BUMN.

Mengapa Cina di pilih?
Cina ditetapkan sebagai investor pada proyek kereta cepat ini karena hanya Cina yang bersedia mengikuti ketentuan dari Peraturan Presiden tentang tidak ada jaminan dari pemerintah. Pemerintah China melalui CDB bersedia memberikan pinjaman dengan skema non recourse loan. Sehingga cina bukan hanya menawarkan kemitraan tapi juga financial solution, yang ini tidak mudah didapat ditengah krisis global sekarang ini. Ini konsep B2B murni,dimana negara tidak menanggung resiko apapun dari adanya proyek ini.

Cina merupakan negara yang punya pengalaman paling luas dalam modernisasi angkutan massal. Cina punya jalur kereta cepat sepanjang 19.000 KM. Bandingkan dengan Jepang yang hanya 2.664 KM. Semua spec tehnology Kereta Cepat yang dimiliki Jepang juga ada pada china, misal peringatan dini apabila ada gempa sehingga kereta bisa berhenti seketika sebelum sampai dititik gempa. Cina juga bersedia mematuhi mengenai local content dimana 50% aluminium dari Indonesia, Juga Cina bersedia agar lebih dominan menggunakan rekanan lokal dan SDM indonesia yang akan mencapai lebih dari 80.000 orang.

Apakah proyek ini layak secara ekonomi?
Kelayakan proyek ini karena adanya TOD sebagai risk management. Tanpa ada peluang konsesi bisnis mengelola TOD maka dipastikan secara bisnis proyek kereta cepat ini tidak menguntungkan. Di perkirakan 10 tahun pertama beroperasi, dari TOD dapat menyumbang penerimaan sebesar 26% dan sisanya 74 % dari penjualan tiket. Ini tidak termasuk value TOD yang setiap taun meningkat seiring berkembangnya kawasan. Seperti kenaikan harga kaveling tanah, project derivative value seperti Advertising, cash digital atas alat pembayaran ticket, dan lain lain. Tahun ke sepeluh beroperasi barulah TOD di jual kepada investor retail dengan harga berlipat.
Itulah trigger bagi investor tertarik menanamkan uangnya. Kalau karena itu investor untung, tetap saja negara tidak rugi. Karena 25% pajak penghasilan di nikmati oleh negara dan ini akan di kembalikan kepada rakyat untuk memperkuat posisi APBN. Belum lagi pajak barang mewah dan pajak penghasilan bagi pekerja yang terlibat dalam proyek ini secara keseluruhan, juga pengaruh berganda bagi penduduk Jawa Barat. Dari 3 TOD itu diperkirkan akan menampung angkatan kerja 8 juta orang. Ini tidak termasuk outer ring dari TOD seperti Meikarta , kota jonggol, dll.

Penutup 
Juga harus di catat bahwa operator bukanlah pemilik asset dari proyek ini.Secara undang undang Asset Kereta cepat tetap di miliki oleh Negara.Pihak operator hanya mendapatkan konsesi bisnis selama jangka waktu 40 tahun dan setelah itu harus di serahkan kepada pemerintah (BOT ) untuk dikelola sendiri . Dengan menggunakan skema business to business maka dana APBN bisa digunakan untuk pembangunan infrastruktur yang Indonesia sentris. Terbukti dana infrastruktur tahun ini meningkat 76,3 persen yaitu sebesar 313,5 triliun yang bisa dialokasikan untuk pembangunan infrastruktur di luar Jawa. Dari skema B2B proyek Kereta cepat ini kita mendapatkan solusi angkutan massal, pengembangan wilayah melalui system koneksitas antar wilayah dan solusi pembiayaan yang dalam jangka panjang proyek akan dikembalikan kepada pemerintah, yang semua itu tanpa keluar uang dari APBN namun rakyat menikmati angkutan yang nyaman,dan Negara dapat pajak. Nikmat apa lagi yang kita dustakan? Kecuali orang bebal karena kebencian akibat kebodohan tak bertepi, selalu tak pandai bersyukur




.***

Minggu, 06 Agustus 2017

Berpacu dengan Waktu.?

Laju pertumbuhan penduduk Indonesia 1,49 persen setiap tahun. Artinya jumlah penduduk bertambah setiap tahun sebanyak 4,5 juta. Itu sama dengan satu negara Singapura. Jadi, kalau 10 tahun, ya 10 negara Singapura. Terlambat saja pemerintah meng-eskalasi pembangunan maka penambahan jumlah penduduk ini akan menjadi ancaman serius. Dalam banyak pembangunan di negara berkembang mengalami kegagalan karena pemerintah terlambat mengeskalasi pertumbuhan ekonomi. Atau kalah cepat dengan pertumbuhan penduduk. Peningkatan jumlah penduduk yang tidak diiringi dengan peningkatan kapasitas sarana umum maka pertumbuhan penduduk itu akan menghancurkan pembangunan yang sudah ada.

Mau contoh ? Pada awal jalan toll jakarta -Bandung di bangun tahun 2003 , waktu tempuh hanya 1,5 jam. Tapi sekarang waktu tempuh bisa 2,5 jam. Bahkan kalau hari libur bisa mencapai 6 jam. Mengapa ? Jalan tetap itu itu juga tapi jumlah penduduk terus bertambah. Kalau kemacetan ruas jalan toll Jakarta Bandung itu di hitung sumber daya yang hilang , seperti bahan bakar maka mungkin nilainya sudah bisa membangun 3 ruas jalan toll jakarta bandung. Itu baru bahan bakar. Belum lagi biaya perawatan jalan toll yang terus meningkat karena arus kendaraan yang padat. Contoh lain adalah Jakarta. Ada jutaan kendaraan yang terjebak macet setiap hari. Teman saya sebagai konsultan bisnis pernah berkata kepada saya bahwa pemborosan bahan bakar akibat kemacetan jakarta dalam setahun bisa membangun MRT seperti Singapore.

Benarkah ? Bank Dunia (2012) mempublikasikan Logistic Performance Index yang menempatkan kinerja sektor logistik Indonesia pada urutan 59 dari 155 negara. Posisi yang jauh di bawah dibandingkan dengan negara tetangga, seperti Singapura, Malaysia, Thailand, Vietnam, maupun Filipina yang memiliki kondisi geografis relatif sama dengan wialayah nusantara. Pemborosan akibat tidak tersedianya sarana umum itu mencapai 20-25% dari PDB. Jika dihitung dengan PDB tahun 2010 sebesar Rp 2.310,7 triliun maka nilainya sekitar Rp 500 triliun setahun.,Kalaulah pemborosan itu dipakai untuk membangun jalan , pelabuhan, bandara maka kita sudah lama punya jalan toll trans sumatera, kalimantan, papua, sulawesi dan pelabuhan berkelas dunia.

Ketika Jokowi terpilih sebagai presiden, ancaman pertumbuhan penduduk ini disadarinya betul. Tidak ada yang bisa dilakukan kecuali memacu pembangunan sarana umum. Ya kalau berkali kali Jokowi bilang “ Kita berpacu dengan waktu “ maka itu bukan hanya sekedar retorika. Tapi benar benar ancaman nyata di hadapan kita. Bila sehari saja terlambat mengambil keputusan untuk mengeksekusi pembangunan sarana umum maka dampaknya sangat luas dalam skala nasional. Ada jutaan bayi lahir setiap tahun yang harus di sediakan sarana dan prasarana, sementara penduduk yang telah ada masih jauh dari ketersedian layanan pemerintah menyediakan sarana umum. Jadi benar benar to be or not to be.

Bila pembangunan sarana umun di kebut setiap hari dengan anggaran yang setiap tahun terus menigkat, bukanlah untuk program pencitraan tapi tak lain menebus kesalahan pemerintahan sebelumnya yang selalu lambat mengambil keputusan yang berdampak pemborosan terhadap sumber daya yang ada. Kini di era Jokowi, yang mangkrak di era pemerintahan sebelumnya di selesaikan, yang masih rencana di eksekusi, yang belum ada, di created dan diperluas. Singkatnya tiada hari tanpa kerja, dan tentu goncangan politik terjadi hebat karena membangunkan orang lagi asyik tidur yang ingin terus bermimpi. Tapi the show must go on.

Selasa, 01 Agustus 2017

Mafia garam?


Garam itu ada dua jenis. Satu jenis untuk konsumsi rumah tangga dan satu lagi untuk industri. Untuk garam konsumsi, besaran kandungan NaCl adalah paling sedikit 94,7% sampai dengan kurang dari 97% sedangkan untuk kebutuhan industri kandungannya adalah 97%. Saat ini 70% ketersediaan garam industri diserap oleh industri pulp anda paper, 20% diserap untuk kegiatan pengeboran oleh industri pertambangan dan 10% sisanya intuk industri farmasi dan aneka industri lainnya, seperti tekstil industri makanan-minuman (mamin). Setiap tahunnya Indonesia memerlukan 1,9-2,1 juta ton garam industri.

Untuk kebutuhan rumah tangga kita bisa dikatakan swasembada walau masih ada impor sebagian. Tapi untuk garam industri itu masih di Impor semua. Mengapa ? karena tekhnologi geomembrane mahal. Setiap hektar budidaya garam membutuhkan dana sedikitnya Rp. 21 juta. Makanya tidak banyak petani berani melakukannya. Kecuali PT. Garam. Tapi PT. Garam pun tidak seratus persen bisa mengcover kebutuhan garam Industri. PT. Garam malah menciptakan rente baru dengan hak monopoli impor yang diatur oleh mafia Garam. Saat sekarang sedang diaudit impor garam itu. Dari sini polisi akan tahu siapa 7 samurai yang terlibat dibalik mata rantai impor garam.

Pada tahun 2014 awal ibu Susi menduduki pos sebagai menteri Kelautan , dia sudah menegaskan bahwa stop impor garam. Namun kebijakan ibu Susi tidak bisa di terapkan begitu saja. Karena Kementerian Perdagangan (Kemendag) dan Kementerian Perindustrian (Kemenperin) belum punya kebijakan jelas bagaimana memutus rantai impor garam. Maklum saja bahwa impor garam ini sedikitnya setahun melibatkan uang Triliunan rupiah. Jadi bukan bisnis kacangan. Selama periode kedua SBY berkuasa , kita impor garam mencapai 10 juta ton. Selama itu tidak ada upaya serius bagaimana membangun industri garam yang mandiri. Apalagi kita mempunyai laut terluas. Walau kadang musim dapat mempengaruhi produksi namun itu tidak terjadi meluas. Masih ada daerah lain yang tidak terkena pengaruh musim.

Saat sekarang Jokowi menghadapi dilema. Apabila tetap mendukung program ibu SUSI untuk swasembada garam maka industri dalam negeri yang membutuhkan garam akan terancam. Dan ini berdampak kepada proses produksi nasional. Kalau terus dibuka keran impor maka sampai kapanpun kita tidak akan bisa mandiri dan petani garam tetap akan jadi korban dari bisnis triliunan rupiah ini. Sudah saatnya program swasembaga garam itu di picu dengan dana program yang khusus seperti program swasembaga beras. Tapi keliatannya anggaran peningkatan produksi garam ini selalu dihadang oleh DPR dalam pembahasan APBN. Akibatnya program ibu susi tidak pernah bisa optimal dan tentu membuat mafia garam semakin kuat posisinya untuk menciptakan laba tak terbilang. 10 tahun SBY berkuasa seakan melakukan pembiaran mafia garam pesta pora dan kini mereka semakin kuat. Sedikit saja pemerintah salah mengambil kebijakan dampaknya akan luas , baik terhadap industri dalam negeri maupun petani garam.

Kamis, 27 Juli 2017

Orang Indonesia bahagia.

Index happiness yang diterbitkan oleh Global research company Ipsos (2013), menempatkan Indonesia rangking pertama index kebahagiaan, yaitu 51 %. Index ini mengalahkan China 19%, Arab 21 %. Mengapa Indonesia sampai menempati rangking pertama dimana lebih 50% orang indonesia hidup bahagia? Mungkin kalau ada sorga didunia maka itu adalah negara kamu” Demikian teman saya ketika saya berjumpa dengan dia pada waktu musim dingin. Saya sempat terkejut dengan kata katanya. Karena saya membayangkan negeri saya di negeri saya ada group pengeluh dan ingin mati menemukan sorga. “ Lingkungan negeri anda benar benar sorga. Tidak ada suasana kompetisi. Itulah yang membuat negeri anda menjadi sorga yang sesungguhnya. “

Kompetisi ? Bukankah budaya kompetisi itu bagus. Karena semangat kompetisi pulalah yang membuat negara maju. Lantas mengapa tidak ada suasana kompetisi justru membuat lingkungan menjadi sorga. Ini cukup aneh bagi saya. Kemudian saya mencoba meng explore apa yang dikatakan teman ini. Saya perhatikan kehidupan sehari hari mereka; . Jepang, Korea, China, Hong Kong, Eropa ,Amerika. Saya berusaha mencari tahu dibalik makna kata kata teman ini. Akhirnya , saya baru menyadari bahwa mungkin dia benar. Betapa tidak. ? Setiap malam hari , sampai tengah malam, masih ada saja orang orang berkumpul di Bar atau restoran..Padahal sudah waktunya mereka pulang. Tapi mengapa mereka tetap disana.? Padahal mereka adalah orang baik baik. Ternyata memang tidak ada yang mereka cari disini. Mereka hanya berusaha melupakan semua kesehariaanya dikantor. Sampai mereka lelah dan terkantuk.Pulang hanya untuk tidur. Besok kerja lagi. Begitu seterusnya. 

Dinegeri mereka ada aturan ketat untuk memaksa setiap orang berkompetisi. Ada target waktu, target penjualan, target produksi, target laba, target sukses , target lulus sekolah , target..semua ada target yang harus dicapai. Dalam kesehariannya, mereka juga dikejar target on time datang ke station, target on time datang kerestoran , target on time penuhi janji, target on time bayar bill, target on time delivery... Siapa saja yang tidak mampu berkompetisi maka harus rela tersingkir. Tidak ada kemanusiaan untuk membela mereka yang gagal berkompetisi. Ini hukumnya. Memang mereka menjadi mesin pertumbuhan dari sebuah system yang bernama negara. Entah itu kapitalis , sosialis ,komunis. Semua sama saja. System mereka memang menciptakan free competition tapi sehat. Artinya , setiap warga negara berhak untuk mendapatkan reward dari keunggulan dia berkompetisi. Negara menghormati upaya orang untuk sukses dan unggul dalam bersaing. Juga menjaga terjadinya fair play secara ketat. Namun negara jugalah , yang menjadi creator dari system ini sehingga hubungan antar manusia tidak lagi harmonis. Rumah tangga hanya tempat berkumpul sesaat namun secara psikis semua anggota keluarga tidak berada dirumah. Pikiran mereka ketempat lain dimana mereka dikejar untuk bersaing. Ibu sibuk mengatur Bill tagihan., Anak memikirkan kompetisi disekolah. Ayah, memikirkan kompetisi di kantor.

Lingkungan tempat tinggal tidak lagi nyaman sebagai komunitas sapa dan tawa. The time is essential , kata mereka. Hingga suasana kebersamaan ditengah komunitas adalah langka. Hubungan dengan tetangga hanya sekedar sapa. Hubungan dengan anak hanyalah sapa ringan di waktu sarapan pagi.Hubungan dengan istri hanya senyuman menjelang tidur. Mereka terjerat oleh suatu system tentang reward and bill dan setiap hari adalah mimpi buruk tentang takut gagal, takut tidak on time. Belum lagi harus menghadapi datangnya musim dingin yang selalu hadir setiap tahun. Badai salju yang menyakitkan adalah resiko yang harus diterima setiap tahunnya ditengah masalah social kompetisi yang tak memberi ruang untuk berkelit…Suatu kehidupan yang memenjarakan diatas kemegahan infrastruktur modern yang dibangun dari uang pajak mereka, yang tak pernah nyaman sebagai makhluk social..

Maka benarlah , kata teman saya bahwa negeri kita adalah sorga… Cuaca dan alam membuat orang untuk menikmati segala galanya secara bebas tanpa terkungkung oleh empat musim, walau ada bencana maka itu hanyalah insidential,yang cepat datang dan cepat pula dilupakan. Keseharian kita adalah cepat memahami realitas dengan semangat persaudaraan, tidak ada situasi mencekam seperti dalam arena kompetisi. Namun tidak semua begitu. Masih ada 49% orang indonesia tidak pernah bisa bahagia karena selalu melihat persoalan dari sudut buruk dan berpikir negatif setiap waktu. Padahal by system pemerintah terlalu banyak memberikan kebebasan agar mereka bahagia secara lahir dan batin. Tapi mereka tidak peduli itu. Mereka pandai mengeluh dengan menyalahkan siapa saja. Padahal hidup mereka jauh dari tekanan berkompetisi yang keras dan merasa saudara, teman, negara atau orang lain berkewajiban membantunya karena gagal bersaing. Dan kalaupun dibantu, tidak akan merubahnya menjadi bahagia...Teman saya di China bilang" Kalau ada orang Indonesia tidak bahagia maka itu karena kebodohan dan tidak mengenal Tuhan dengan baik"