Senin, 31 Oktober 2016

Allah Maha Perkasa..


Ada kisah. Seorang bernama Abrahah. Ia adalah Raja Yaman yang berasal dari Habasyah (Ethiopia). Dia masih keturunan Bani Kanisah di Shanaa. Abrahah berniat untuk memindahkan ziarah Suci ke Yaman. Oleh karena itu dia bersumpah akan menghancurkan Ka’bah yang ada di Makkah. Pada tahap awal , ia melakukan provokasi dengan mengirim pasukan  berkuda yang di pimpin Al-Aswad bin Maqsud ke Makkah. Tanpa perlawanan apapun, ia berhasil menjarah harta benda penduduk makkah, termasuk dua ratus ekor unta milik Abdul Muththalib, kakek Rasul. Ketika itu, Abdul Muththalib adalah pemimpin dan tokoh orang-orang Quraisy. Setelah itu Abrahah mengutus Hanathah Al-Himyari pergi ke Makkah, 

 “Tanyakan siapa pemimpin dan tokoh negeri ini, kemudian katakan kepada pemimpin tersebut, bahwa sesungguhnya Abrahah berkata kepadamu, ‘Sesungguhnya kami datang ke tempat kalian tidak dengan maksud memerangi kalian. Kami datang untuk menghancurkan Ka’bah. Jika kalian tidak menghalang-halangi kami dengan mengumumkan perang melawan kami, kami tidak butuh darah kalian. Sebaliknya, jika pemimpin tersebut bermaksud memerangiku, maka bawa dia kepadaku.” kata sang Raja, Abrahah.

Tiba di Makkah, Hanathah menemui Abdul Muththalib yang di ketahuinya sebagai pemimpin kaum Qurais dan menjelaskan kepadanya apa yang diperintahkan Abrahah. 

“Demi Allah, kami tidak ada maksud untuk memerangimu, karena kami tidak mempunyai kekuatan untuk itu. Ka’bah adalah Rumah Allah yang suci dan rumah kekasih-Nya, Ibrahim AS. Jika Allah melindunginya, itu karena Ka’bah adalah Rumah-Nya dan rumah suci-Nya. Jika Allah tidak melindunginya, demi Allah, kami tidak mempunyai kekuatan untuk melindunginya. ” Kata Abdul Muththalib. 

“ Baiklah. Mari ikut aku, karena aku diperintahkan pulang membawamu.” Kata Hanathah.

Kemudian Abdul Muththalib dangan di kawal sebagian anak-anaknya pergi bersama Hanathah. Tiba di barak Abrahah, Abdul Muththalib menanyakan Dzu Nafr, karena ia sahabatnya. Ketika berjumpa dengan Dzu Nafr di tahanan

“Wahai Dzu Nafr, apakah engkau mempunyai kekuatan untuk mengatasi musibah yang menimpa kita?” Kata , Abdul Muththalib.

“Apalah artinya kekuatan tawanan raja? Ia menunggu kapan di bunuh, pagi hari atau sore hari? Aku tidak mempunyai kekuatan sedikit pun untuk mengatasi musibah yang menimpamu. Namun Unais, pengendali unta adalah sahabat karibku. Aku akan datang kepadanya kemudian aku perintahkan dia untuk berbuat baik kepadamu, menjelaskan kepadanya bahwa hakmu amat besar, dan memintanya mempertemukanmu dengan Raja Abrahah, kemudian engkau berkata kepadanya apa saja yang engkau inginkan, serta membelamu dengan baik di sisinya, jika ia mampu melakukannya.”

Kemudian Dzu Nafr menemui Unais,

 “Sesungguhnya Abdul Muththalib adalah pemimpin orang-orang Quraisy, dan pemilik rombongan dagang Makkah. Ia memberi makan orang-orang di dataran rendah, dan binatang buas di puncak gunung. Sungguh, Raja Abrahah telah mengambil dua ratus ekor untanya. Oleh karena itu, mintakan izin untuknya agar ia bisa bertemu dengan Raja Abrahah, dan berilah pembelaan kepadanya sesuai dengan kemampuanmu!” 

“Itu akan aku kerjakan.” Jawab Unais 

Kemudian Unais menghadp Abrahah,
“Paduka raja, sesungguhnya pemimpin Quraisy sedang berada di pintumu untuk meminta izin bertemu denganmu. Ia pemilik rombongan dagang Makkah, memberi makan orang-orang di dataran rendah, dan binatang buas di puncak gunung. Izinkan dia masuk agar ia bisa mengutarakan maksudnya kepadamu!” 

Abrahah mengizinkan Abdul Muththalib masuk ke dalam tenda. Kali pertama melihat Abdul Muththalib , tahulah Abrahah bahwa tamunya adalah orang yang paling tampan, dan paling agung. Abrahah memuliakan Abdul Muthalib, mengagungkannya, dan menghormatinya dengan tidak menyuruhnya duduk di bawahnya. Abrahah tidak suka dilihat orang-orang Habasyah mendudukkan orang lain di atas singgasananya. Oleh karena itu, ia turun dari singgasananya, kemudian duduk di atas permadaninya dan mendudukkan Abdul Muththalib di sebelahnya.

Pembicaraan di bantu oleh penerjemah. 
 “Apa keperluanmu.” Kata Abrahah
“ Mohon kembalikan  dua ratus ekor unta saya” Kata Abdul Muththalib
" Aku pikir tadi engkau datang mengharapkan aku agar tidak menghancurkan tempat Suci agama nenek moyangmu. Tapi ini justru engkau meminta unta milikmu yang aku ambil. "
Sesungguhnya aku adalah pemilik unta, dan aku berkewajiban untuk mempertahankannya.
" Bagaimana dengan Ka'bah , rumah suci agama nenek moyangmu? 
 “Itu milik Allah. Itu terserah antara engkau dengan-Allah

***
Kisah tersebut di muat dalam hadith dan di singgung dalam  AL Quran. Ini sebuah pembelajaran bagi kita penganut agama Tauhid. Tidak ada alasan kita menabuh genderang perang untuk sesuatu milik Allah yang akan di ambil orang, atau firman Allah yang di lecehkan orang lain. Allah tidak perlu di bela untuk menjaga agama dan firmanNya agar tetap hidup di dunia ini. Allah itu Maha Perkasa, Maha Pengurus, Maha Besar. Apakah kita lebih hebat di bandingkan Allah, sehingga bawa perasaan seakan jadi hero membela Allah. Tugas kita sebagai manusia adalah mempertahankan apa yang menjadi hak kita. Dan benarlah dalam sejarah Pasukan Abrahah di luluh lantakan oleh sekawanan burung yang di kirim oleh Allah. Ka'bah sampai sekarang tetap di tempatnya tanpa terusik sama sekali.  Agama Tauhid adalah keimanan tak  bertepi terhadap kekuasaan Allah, dan berserah diri tanpa syarat. Karena janji Allah itu pasti, bahwa hanya Dia yang akan menjaga Agama dan Al Quran, bukan manusia.

Bagaimana dengan kita sebagai manusia ?  Sayyid Qutb mengatakan,”Bagaimana orang-orang beriman menolong Allah sehingga mereka menegakkan persyaratan dan mendapatkan apa yang di syaratkan bagi mereka berupa kemenangan dan diteguhkan kedudukan ?” Beliau melanjutkan,”Sesungguhnya mereka memurnikan Allah dalam hati mereka dan tidak menyekutukan-Nya dengan sesuatu baik syirik yang nyata maupun yang tersembunyi serta tidak menyisakan seseorang atau sesuatu pun bersama-Nya didalam dirinya. Dia menjadikan Allah lebih di cintai dari apapun yang dia cintai dan sukai serta meneguhkan hukum-Nya dalam keinginan, aktivitas, diam, saat sembunyi-sembunyi, terang-terangan maupun saat malunya, maka Allah akan menolongnya dalam diri mereka. Jadi menolong Allah itu adalah memperkuat tauhid dalam diri kita tanpa terjebak dengan simbol apapun. 

Apabila ada orang atau penguasa merampas harta kita dengan semena mena, kita wajib berperang dan menyabung nyawa untuk itu. Kalau ada orang atau penguasa melarang kita melaksanakan keyakinan kita beragama, maka wajib kita lawan. Ini jihad. Perang penaklukan beberapa wilayah di zaman Rasul dan kemudian di zaman Sahabat Rasul, semua karena hak umat islam berniaga dan melaksanakan ritualnya di larang oleh penguasa. Dan juga umat islam di ancam nyawanya karena keyakinannya. Mempertahankan hak pribadi kita adalah bagian dari Tauhid. Karena tidak ada yang perlu di takuti di dunia ini kecuali Allah. Namun untuk itupun usaha persuasi di tempuh terlebih dahulu agar di dapat saling pengertian tanpa harus berperang. Namun bila usaha perdamaian dan kompromi tidak mencapai hasil, maka perang di lakukan. Itupun syarat perang sangat ketat. Tidak boleh membunuh wanita, anak anak, orang tua, bahkan di larang membakar tempat ibadah serta menebang pohon.

Jadi perang yang di lakukan umat islam pada generasi pertama itu berdimensi moral, bukan penaklukan demi kekuasaan semata. Karena terbukti setelah penaklukan di capai, tidak ada pemaksaan terhadap agama , dan butuh waktu lama sampai islam di terima oleh penduduk yang di taklukan. Syiar islam sampai menyebar keseluruh pelosok bumi ini bukan karena pedang dan kebencian tapi dengan semangat cinta kasih sayang, tidak menghilangkan budaya lokal tapi memperbaiki budaya lokal agar sesuai dengan ruh Islam, tidak meminggirkan tapi merangkul yang berbeda, dengan penuh pemaaf dan berhati lapang menghadapi masalah tanpa di tunggangi nafsu duniawi yang hanya membuat pertikaian. Apalagi di era kini dimana Hak pribadi orang di lindungi oleh UU bukan hanya oleh hukum nasional tapi juga international. Tidak ada alasan lagi untuk berperang. Era kini umat islam harus di garis depan menebarkan cinta dan kasih sayang sebagai ujud Islam adalah rahmat bagi semua.

Semua akan baik baik saja..


Ketika Koalisi Merah Putih ( KMP ) bubar jalan, teman saya sempat nyeletuk " Kalau bubar berkoalisi di Parlemen ya bisa gunakan extra parlemen. Gitu aja kok repot". Bagaimana caranya ? ingat , lanjutnya. Bahwa PKS itu punya cara yang hebat untuk menggalang massa. Di era SBY, Pemerintah lebih banyak mengalah dengan tekanan extra parlementer. Karena memang PKS sangat mudah mengerahkan kekuatan massa akar rumputnya untuk bergerak. Makanya banyak kebijakan nasional sulit di laksanakan.  Di Era Jokowi, kekuatan KMP yang di kawatirkan adalah PKS. Di samping secara idiologi PKS, sulit di persatukan dengan PDIP karena di pimpin oleh seorang wanita. Juga PKS punya agenda besar menempatkan "orangnya " di RI-1. Jakarta sebagai barometer nasional adalah pintu masuk PKS untuk mengukuhkan posisinya menuju RI-1. Siapapun itu selagi ia adalah orang yang di dukung PKS maka agenda PKS dapat di laksanakan. Apa agenda PKS? Merubah UU sesuai dengan syariah Islam. 

Mungkin, lanjut teman,  karena agenda inilah yang salah satunya menjadi penyebab bubarnya KMP. Maklum Golkar, PKB , PD dan PPP tidak setuju mengenai agenda ini. Platform mereka jelas Pancasila.  Lantas mengapa PKS bisa bergabung dengan Gerindra. Karena hanya ada dua partai yang bisa di ajak berkoalisi. Yaitu Gerindra dan PD. Gerindra memutuskan tetap sebagai oposisi dan berada di luar Pemerintah. Begitu juga dengan Partai Demokrat. Dengan PD, PKS tidak menemukan " orang yang cocok " untuk di dukung. Dan SBY justru menempatkan putranya sebagai Cagub DKI, yang tentu akan jadi Icon PD di masa mendatang menuju RI-1. Gerindra sadar bahwa menempatkan kadernya secara head to head dengan Ahok tidak elok. Karenanya Gerindra menerima  Anies sebagai " orang PKS" untuk Cagub DKI berpasangan dengan kader Gerindra. Tentu PS sebagai ketua umum punya pertimbangan mengapa sampai mendukung calon yang di usung oleh PKS. Pertimbangannya adalah melawan Ahok hanya mungkin melalui kekuatan massa Islam. Emosi pengikut islam inilah yang akan di pakai oleh Gerindra untuk unggul. Ini juga bukan sesuatu yang  di larang dalam politik. Kelompok oposisi selalu mencari jalan dukungan darimanapun sumbernya agar fungsinya sebagai penyeimbang dapat di akui.

Di samping itu, menurut teman, Gerindra tidak perlu menggunakan akar rumputnya untuk masuk arena extra parlementer melakukan pressure kepada pemerintah. Karena akar rumput PKS terkoneksi dengan berbagai ormas Islam radikal, yang masing masing mereka bisa bergerak sendiri sendiri. Maklum masing masing mereka juga punya agenda sendiri sendiri. Dan cukup dengan satu pemicu sudah cukup membuat mereka bersatu menuju satu arah yang di jadikan target untuk di gusur. Pertama adalah Ahok, dan selanjutnya adalah Jokowi. Jadi koalisi PKS dan Gerindra itu memang die hard untuk berhadapan dengan rezim Jokowi. Sementara Partai Demokrat tidak perlu terlibat terlalu jauh dalam arena yang di ciptakan oleh PKS namun dukungan secara tidak langsung di berikan kepada gerakan massa tersebut. Maklum, Partai Demokrat di untungkan oleh gerakan tersebut dengan memberikan peluang bagi Agus lebih mudah menjadi pemenang. 

Design skenario melalui gerakan emosi umat islam, di yakini efektif. Mengapa ? tanya saya. Karena pemerintah tidak mungkin melakukan tindakan keras. Alasanya karena Indonesia sedang mengalami tekanan ekonomi akibat krisis global yang tentu sangat butuh mempertahankan rating investasi semakin baik di mata international. Tindakan keras bisa membuat api semakin membesar. Ini bisa berdampak chaos. BIla ini tejadi maka bisa membuat rating investasi indonesia jatuh. Dan ini sangat buruk bagi perekenomian nasional. Program Tax Amnesty akan gagal karena orang takut menempatkan uangnya di Indonesia. Obligasi Indonesia di pasar uang akan semakin mahal CDS nya. Ini bisa berdampak sistemik terhadap stabilitas Moneter. Mata uang akan terpuruk karena current account akan semakin besar defisit. Proses restruktur APBN semakin dapat ancaman dan Indonesia mengarah kepada krisis struktural yang parah karena investasi besar besar di era Jokowi selama dua tahun ini akan sia sia. Memang pemerintah di tempatkan dalam posisi sulit dalam rencana demo besar besaran tanggal 4 november ini.

Saya terdiam lama. Teman itu asyik minum kopi. Lanjutnya kemudian. Ini semua terjadi bukan hanya soal Ahok dan Jokowi tapi karena program reformasi Migas semakin keras menuju pengambil alihan Freeport kedalam pangkuan ibu pertiwi. Tentu ada pihak yang tidak ingin dengan program ini, yang akan melakukan apa saja agar program ini gagal. Juga sikap indonesia yang memberikan angin kepada China dalam konplik Laut China Selatan, dengan program kerjasama ekonomi melalui pemberian izin kepada kapal asing ( China )  untuk menangkap Ikan di perairan Natuna dan menjadikan Natuna sebagia pelabuhan ikan berstandar Kawasan Ekonomi Khusus. Belum lagi peran Singapore yang semakin keras lobynya kepada elite dalam negeri agar program TA gagal dan ekonomi Singapore bisa selamat. Apabila tahun 2017 januari Kereta Cepat Jakarta-Bandung mulai pembangunan maka reputasi Jokowi semakin tinggi dan sulit di bendung untuk menang dalam Pemilu berikutnya. Maklum penduduk Jawa barat adalah penduduk terbesar di Indonesia.

Begitu sulit posisi Jokowi sekarang. Kata saya. Teman ini berkata bahwa semua kembali kepada karakter seorang Jokowi. Dia bergerak karena nuraninya demi kebenaran dan keadilan. Dia tidak akan tunduk dengan pressure agar Ahok di penjara. Jokowi akan menghormati proses hukum dan dia akan mengawal proses hukum itu tanpa seorangpun bisa menekannya agar hukum di gadaikan demi keinginan pihak tertentu. Mengapa ? Ini soal integritas negara di hadapan hukum yang memastikan negara tidak boleh di kalahkah oleh tekanan dari manapun. Dan lagi kalaupun kehendak mereka itu di turuti, tidak akan selesai sampai di situ. Karena akan ada lagi tuntutan sampai akhirnya target mereka tercapai, Jokowi mundur. Apakah ini akan terjadi? Tanya saya. Tidak akan terjadi?  TNI dan mayoritas elite politik seperti Golkar, Nasdem, Hanura, PKB, PPP, tidak akan mengingingkan keadaan chaos karena mereka paham betul resikonya bagi momentum perekonomian. Pendekatan kepada Prabowo bukanlah loby membujuk tapi hanya cara jokowi menyampaikan pesan kepada PS bahwa dia tidak akan bisa di tekan oleh siapapun dan NKRI adalah harga mati.

Menjelang demo tanggal 4 November akan ada upaya persuasi antar elite. Mengingatkan agar semua sepakat menjaga perdamaian. Demontrasi adalah hak konsitutional warga menyampaikan pendapat, bukan hak memaksakan kehendak. PS seyogia menyadari ini dan siapapun harus bertanggung jawab secara hukum apabila demontrasi menimbulkan anarkis. Semoga tanggal 4 november kelak adalah aksi damai solidaritas Islam sebagai rahmat bagi semua. Tidak ada politik , tidak ada SARA dan semua karena kecintaan kepada Agama dan Negara Hukum. Semoga Koorlap demo menjaga barisan  tidak di tembus oleh provokator politik yanag inginkan chaos, dan kalaupun ada gesekan dengan aparat akan mudah di padamkan. Semua akan baik baik saja. Yuk berdemokrasi yang cerdas.

Minggu, 30 Oktober 2016

Pancasila...


Ketika terjadi perdebatan di Badan Penyelidik Usaha-usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia ( BPUPKI), tentang seperti apa negara yang akan di dirikan. Sebetulnya Jepang sebagai sponsor terbentuknya BPUPKI menginginkan agar Indonesia didirikan seperti jepang , yaitu negara kerajaan. Tapi Soekarno dan Hatta yang terlibat langsung dalam diskusi dengan penguasa jepang di indonesia ketika itu menolak dengan tegas. Mereka tidak ingin negara kerajaan.

Usai pertemuan itu Soekarno berkata kepada Hatta, saya tidak akan sanggup mengemban amanah yang besar ini. Namun Hatta sebagai sahabat seperjuangan Soekarno meyakinkanya " Kalau bung tidak bersedia maka akan selalu ada orang lain yang akan melakukannya. Tidak perlu ragu ambil kesempatan ini. " Soekarno masih berat untuk menentukan sikapnya. 

Itu sebabnya dalam rapat BPUPKI, Soekarno tidak menentukan seperti apa negara akan dibentuk. Dalam pidato pembukaaan sidang pertama BPUPKI,Soekarno hanya menyampaikan visi nya terhadap negeri yang akan didirikan. Dimana negara Indonesia yang akan didirikan haruslah punya visi 1. Kebangsaan Indonesia. 2. Internasionalisme atau perikemanusiaan. 3. Mufakat atau demokrasi. 4. Kesejahteraan sosial. 5. Ketuhanan yang Maha Esa Menurut Soekarno, lima asas itu merupakan weltanschauung atau pandangan mendasar, filsafat, juga fundamen yang digali dari jati diri bangsa Indonesia. Namun gagasan Soekarno itu tidak di setujui. 

Rapat meraton itu tidak menemukan kata satu. Utusan agama Islam mengotot agar negara yang akan di dirikan sesuai dengan syariat islam. Argumen itu kemudian di sanggah karena di nilai hanya melihat bangsa Indonesia berdasarkan demografis. Umat Islam di Indonesia memang mencapai 90 persen. Jika melihat kondisi geografis, khususnya di Indonesia timur, maka komposisinya berbeda. Islam adalah minoritas. Saat itu golongan islam yang di wakili ulama tidak bisa bicara banyak. Karena mereka sadar kalau argumen tersebut di pertahankan maka rakyat indonesia timur yang beragama bukan islam akan mundur dari rencana mendirikan negara RI. Kalau ini di peruncing maka kemerdekaan Indonesia tidak akan terjadi. Pengalaman sebelumnya karena tidak adanya persatuan makanya indonesia tidak bisa merdeka. Mereka berdamai dengan kenyataan karena mereka pejuang yang cerdas. 

Belum lagi soal etnis, utusan Kalimantan mempertanyakan apa kepentingan kami harus bersatu dengan orang jawa? Utusan Aceh pun bertanya mengapa kami harus bersatu dengan orang jawa? kami aman aman saja tanpa adanya Indonesia. Belum lagi masing masing daerah meragukan negara yang akan didirikan nanti hanyalah kepanjangan tangan dari kolonialisme atas nama negara.

Sampai akhirnya Soekarno dengan suara lirih berkata kepada semua hadirin " Jika benar semua ini harus di selesaikan lebih dahulu, sampai rumit, maka saya tidak akan mengalami indonesia merdeka, tuan-tuan tidak akan mengalami indonesia merdeka, dan kita semua tidak akan mengalami Indonesia merdeka sampai keliang kubur " semua terdiam. Bayang bayang perpecahan ada di pelupuk mata. 

Saya mencoba mereskontruksi rapat BPUPKI itu dalam dialogh imaginer sebagai berikut.:

Kemudian Agus Salim yang merupakan pimpinan dari Serikat islam tampil mengambil alih situasi dengan bijak. Agus Salim bertanya kepada hadirin. "Mengapa kita harus bersatu ? " 

Semua terdiam saling pandang.

Agus Salim menjawab sendiri "Kita bersatu karena Tuhan. Semua kita sepakat kalaulah bukan karena Tuhan tentu kita tidak ingin menyabung nyawa untuk kemerdekaan. " 

Semua hadirin menganguk. Mereka tidak berbeda pendapat soal ini. 

"Nah kalau begitu,negara yang akan didirikan ini adalah negara yang di dasarkan kepada Ketuhanan. Seperti apakah Tuhan itu ? Bukan satu , bukan banyak tapi ESA. Ia bisa satu , bisa juga lain.Tak penting , karena hanya Allah yang tahu ujudnya."

Salah satu peserta bertanya " Kalau negara di dirikan karena Tuhan yang maha ESA,maka negara itu harus menjamin kemanusiaan yang adil. " 

Agus salim mengangguk.

Namun salah satu anggota menambahkan, " Adil yang bukan dasarnya subjective tapi atas dasar akhlak. Apa itu ? Ya beradab. Jadi seharusnya kemanusiaan yang adil dan beradab. “

Semua sepakat.

Nah.."lanjut Agus Salim.." Karena Tuhan negara di dirikan dan di laksanakan atas dasar kemanusiaan yang adil dan beradab. Apakah kita sepakat untuk bersatu ? siapkah kita bersatu ? “

Semua setuju dan sepakat.

Maka di tetapkanlah Persatuan indonesia. Ini bukanlah paham nasionalisme seperti yang disampaikan Soekarno. Tapi bersatu karena Tuhan, bukan karena idiologi atau isme darimanapun sumbernya.

Hatta bertanya " Bila kita sepakat bersatu,maka seperti apa bentuk negara yang akan di dirikan nanti ?
Salah satu peserta menjawab bahwa "itu bukan negara kerajaan,bukan kesultanan , bukan khilafah, bukan pula republik seperti negara lainnya. “

" Jadi seperti apa negara itu ? Kejar Hatta.

"Bentuk negara itu adalah negara kerakyatan" jawab peserta.

“ Siapa yang memimpin ? Kejar Hatta lagi

" Mereka yang hikmat ( Berilmu ).”

" Apakah cukup yang berilmu ? bagaimana bila dia zolim?” Kejar Hatta.

" Tentu dia harus bijaksana.”

" Bagaimana proses pengambilan keputusan dalam kepemimpinan itu. Bukankah kita tidak sepakat negara kerajaan atau khilafah ? Tanya Hatta degnan cerdas.

" Dalam bentuk permusyawaratan. Bukan voting.” Jawab utusan Ulama.

"Siapa yang akan boleh bermusyawarah itu ? tanya Hatta.

"Mereka yang menjadi wakil rakyat ,golongan dan agama.”

'Baiklah kalau begitu maka kita sepakat mendirikan negara bentuknya adalah kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat dan kebijaksanan dalam permusyawaratan perwakilan.” Agus Salim menyimpulkan.

Semua hadirin sepakat.

"Lantas apa tujuan negara didirikan ? tanya Hatta.

" Karena dasarnya adalah Tuhan maka tujuannya adalah keadilan.”

"Adil itu hanya milik Allah.Kita manusia tidak akan mampu mencapai keadilan itu walau seberapa keras kita ingin mencapainya. Adil apa ? "Kata Agus Salim.

" Keadilan sosial. Artinya keadilan yang sesuai dengan fitrah masing masing orang perorang"Kata Hatta.

" Baiklah kalau begitu kita akan dirikan negara dengan tujuan "Keadilan sosial bagi seluruh rakyat indonesia."

***
Semua sepakat. Soekarno sebagai pemimpinan rapat menyampaikan ringkasan hasil rapat yang terkenal dengan sebutan Pancasila.  Suasana rapat ketika itu sangat sejuk. Mereka para pendiri negara berdebat dengan cerdas dan di dorong oleh cinta dan kasih sayang. Namun setelah falsafah negara di tentukan maka piagam jakarta di buat dan kelompok islam menambahkan kalimat "melaksanakan syariat islam bagi yang memeluk agama islam.Para peserta tidak begitu pusing soal tambahan kalimat itu.

Dalam rapat Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia pada 18 Agustus 1945, di putuskan untuk melakukan perubahan pada sila pertama dari yang ditulis dalam Piagam Jakarta. Tujuh kata itu, "dengan kewajiban menjalankan syariat Islam bagi pemeluknya", kemudian dihapus. Maka selengkapnya rumusan Pancasila versi 18 Agustus 1945 itu menjadi seperti yang dikenal saat ini, yaitu:
1. Ketuhanan yang Maha Esa
2. Kemanusiaan yang Adil dan Beradab
3. Persatuan Indonesia
4. Kerakyatan yang Dipimpin oleh Hikmat Kebijaksanaan dalam Permusyawaratan Perwakilan
5. Keadilan Sosial bagi Seluruh Rakyat Indonesia

Keputusan dihapuskannya kata "syariat Islam" memang belum memuaskan sebagian umat Islam. Sebagian kelompok masih berjuang untuk mengembalikan tujuh kata dalam Piagam Jakarta itu. Pemberontakan DI/TII/NII adalah bukti yang sekelompok orang berusaha melakukan makar namun dapat di gagalkan pemeritah bersama TNI. Perjuangan politik mengembalikan sila pertama sesuai piagam jakarta terus di lakukan. Dalam sidang konstituante di Bandung pada periode 1956-1959, sejumlah partai yang berasaskan Islam berupaya memperjuangkan berlakunya syariat Islam sebagai dasar negara RI. Namun berhasil di gagalkan. Mengapa ? karena itu hanya sekelompok kecil yang tidak bisa di katakan mewakili umat islam seluruhnya. Pancasila tetap sakti di bawah lindungi rahmat Alalh.

Kalau ada pihak yang sampai sekarang masih terus penasaran, maka nasip mereka akan sama. Pecundang!. Jadi tidak perlulah menegakkan benang basah. Konsep menjadikan agama merebut kekuasaan atas dasar dalil syariah di Indonesia , tidak pernah sukses sepanjang sejarah. Mari cerdas berpikir dan jangan mau di provokasi. Gerakan aksi turun kejalan menekan pemerintah sebetulnya tidak seratus persen benar seperti yang di lihat sebagai gerakan perwakilan murni seluruh umat islam. Ini hanyalah upaya yang sekedar mencoba coba, yang dari dulu tidak pernah mendapat dukungan dari seluruh umat islam di Nusantara ini. 
Jayalah negeri ini..** 

Sabtu, 29 Oktober 2016

Kerakusan...



Suatu saat bertemu taman lama. Dia berkarir di Hangseng, Bursa Hong kong. Usianya belum 40, namun kedewasaan tercermin dari kematangan jiwanya. Walau dia tidak punya suami namun di apartement nya menampung dua orang anak asuh dari Vietnam. Mungkin kesamaan chemistry kami bisa bersahabat walau jarang ketemu karena kesibukan masing masing.  Ingat engga , katanya. Tahun 80 an ada film yang berjudul Wall street. Film ini diangkat dari berbagai sumber kisah nyata, kisah insider trading, tokoh raksasa kejam semacam Gecko yang hanya peduli meraup uang besar dalam waktu singkat, dan juga intrik pasar saham semuanya memang ada. Karakter Gecko sendiri konon dibuat untuk menggambarkan tokoh semacam Carl Icahn, Ivan Boesky, Michael Milken, dan lain lainnya. Pemerhati Buffett mungkin kenal dengan Boesky, ia dikenal sebagai lawan Buffett dalam mengakuisi Scott & Fraser, perusahaan penerbit World Book Encyclopedia. Manajemen Scott & Fraser lebih memilih Buffett sebagai sosok pelindung manajemen daripada Boesky yang perusak. Milken dikenal sebagai raja obligasi sampah (junk bond), ia dihukum 10 tahun dalam kasus insider trading. Stone, sang sutradara , katanya membuat film ini juga sebagai dedikasi untuk ayahnya, seorang pialang saham di era Great Depression

Ya, menurut saya, kisah yang diangkat film ini merupakan sisi buruk pasar investasi di bursa. Semua orang mungkin akan berusaha menghindari kejahatan finansial seperti yang terjadi di film ini. Tapi menurutnya, ironinya, kita selama ini mendapatkan konsep besar bahwa untuk kaya dalam berinvestasi adalah dengan cara yang digambarkan di film Wall Street ini. Tiap kali ”kapitalisme” tampak guncang dan buruk, tiap kali Wall Street terbentur,  cara menyederhanakan soal, menampilkan dahsyatnya keserakahan manusia. Di sana Gekko, diperankan Michael Douglas, menegaskan dalilnya: rakus itu bagus. ”Rakus itu benar. Rakus itu membawa hasil. Rakus itu… menandai gerak maju manusia.” Tapi rakus adalah fiil pribadi-pribadi, sementara ”kapitalisme” tak cukup bisa dikoreksi dengan membuat orang insaf. 

Tapi menurut saya, rakus juga bisa lahir di luar Wall Street. Ia tak hanya melahirkan ”kapitalisme”.Memang ada sesuatu yang amat rumit hari-hari ini. Seperti mantra, seperti makian, kata ”kapitalisme” kini meyakinkan hanya karena dampaknya bagi pendengar, bukan karena definisinya yang persis. Juga kata ”sosialisme”. Juga kata ”pasar”, ”Negara”, dan lain-lain yang tak berseliweran di antara kita. Kita sering tak menyimak, pengertian itu sekarang pada retak, nyaris rontok. Setidaknya sejak Juli 2008 yang lalu. Majalah The Economist melukiskan adegan dramatik yang terjadi di pusat kekuasaan Amerika Serikat, negara kapitalis papan atas itu: ”Pada 13 Juli, Hank Paulson, Menteri Keuangan Amerika, berdiri di tangga departemennya seakan-akan ia menteri sebuah negara dengan ekonomi pasar yang baru timbul….” 

Hari itu Paulson, pembantu Presiden Bush, mengungkapkan rencana daruratnya buat menyelamatkan Fannie Mae dan Freddie Mac, dua bisnis raksasa dalam bidang pendanaan hipotek yang tak mampu lagi membayar kewajibannya US$ 5,2 triliun. Pemerintah memakai kata ”conservator-ship”. Pemerintah AS mengambil alih perusahaan itu—kata lain dari ”nasionalisasi”, sebuah langkah yang mirip apa yang pernah dilakukan di Indonesia dan akhir-akhir ini di Venezuela. Tapi ini terjadi di suatu masa, di suatu tempat, di mana ”pasar” dianggap punya daya memecahkan persoalannya sendiri. Ini terjadi di sebuah era yang masih meneruskan fatwa Milton Friedman bahwa ”penyelesaian oleh Pemerintah terhadap satu soal biasanya sama buruk dengan soal itu sendiri”. Ini terjadi di sebuah perekonomian—disebut ”kapitalisme”—yang prinsipnya adalah siapa yang mau ambil untung harus berani menerima kemungkinan jatuh. Jika para direksi dan pemegang saham siap menyepak ke sana-kemari meraih laba di pasar, kenapa kini mereka harus dilindungi ketika tangan itu patah? Di situlah ”kapitalisme” meninggalkan prinsipnya sendiri. 

Dia tersenyum. Tapi tak berarti ”kapitalisme” di Amerika berhenti sejenak. Memang tindakan nasionalisasi di sana—terakhir dilakukan terhadap perusahaan asuransi raksasa AIG (American International Group)—menunjukkan kian besarnya peran ”Negara” dalam perekonomian. Namun kita perlu lebih saksama. Sebab yang terjadi sebenarnya sebuah simbiosis yang tak selamanya diakui antara ”Negara” dan ”pasar”. ”Nasionalisasi” terhadap Fannie dan Freddie berarti sebuah langkah menyelamatkan sejumlah pemain pasar dengan dana yang dipungut dari pajak rakyat. Dengan kata lain: yang dilakukan Pemerintah AS adalah sebuah ”pemerataan” kerugian, bukan ”pemerataan” hak. Hubungan simbiosis antara kedua perusahaan itu dan ”Negara” juga bisa dilihat dari segi lain: menurut laporan CNN, selama 10 tahun, Fannie dan Freddie mengeluarkan US$ 174 juta untuk melobi para politikus, untuk membangun ”iklim politik” yang ramah kepada mereka—termasuk ketika tanda-tanda keambrukan sudah terasa. 

Tapi menurut saya, jika ”Negara” dan ”kapital”, ”pemerintah” dan ”pasar” ternyata tak sepenuhnya lagi bisa di pisahkan dengan jelas, apa yang luar biasa? Bukankah sejak abad ke-19 Marx menunjukkan bahwa ”Negara” selamanya adalah sebuah kekuasaan yang memihak kelas yang berkuasa? Dikatakan secara lain, bukankah ”Negara” tak hanya terdiri atas ”apa”, melainkan ”siapa”? Tapi persoalan tak selesai hanya dengan satu tesis Marx. Sejarah politik makin tak mudah menentukan bagaimana sebuah kelas sosial merumuskan identitasnya—terutama ketika kaum pekerja bisa tampil lebih ”kolot” ketimbang kelompok sosial yang lain, dan ”ketidakadilan” tak hanya menyangkut ketimpangan dalam memiliki alat produksi. Mau tak mau, para analis dan pakar teori harus berhenti seperti beo yang pintar, dan berhenti memakai mantra dan makian ketika ”kapitalisme” dan ”sosialisme” begitu gampang dikatakan. Itu tak berarti api awal yang dulu membakar perang purba itu, perang yang melahirkan mantra dan makian itu, telah sirna. 

Sambil menghabiskan wine di gelasnya dia berkata bahwa selama ketidakadilan menandai rasa sakit sejarah, api itu masih akan membakar dan perang masih akan berlangsung. Selama sejarah belum berakhir dalam mengisi pengertian yang disebut Etienne Balibar sebagai √©galibert√©, paduan antara ”keadilan” dan ”kebebasan”, perang tak akan padam.  Perang itu, tak selamanya dengan darah dan besi, adalah perjuangan politik. Ketidakadilan tak bisa hanya bisa diselesaikan dengan administrasi, karena administrasi ”Negara” selamanya akan terbatas dan terdorong ke arah pola yang cepat jadi aus. Ketidakadilan juga tak akan bisa diselesaikan dengan perbaikan budi pekerti, dengan mengubah atau mengalahkan orang macam Gekko. Apalagi pergulatan ke arah keadilan dan kebebasan tak hanya terbatas dengan mengutuk Wall Street. Kita tak cukup jadi Oliver Stone. 

Dengan tersenyum saya menegaskan sikap saya bahwa konsep bahwa agar sukses kita tidak harus melakukan apa saja buy low sell high, created the Future of an Illusion and take upfront. Sebetulnya tak perlu harus melakukan insider trading. Ada begitu banyak investor yang sukses bahkan dengan metodologi konservatif, hati-hati, cenderungnya memang perlahan dan membosankan. Untuk menjadi sukses seperti Buffett pun tak perlu harus melanggar aturan. Dalam lanjutan film yang diluncurkan tahun 2010, money never sleep , Stone tetap mengangkat kisah yang mirip, dan tentu sudah tidak terlalu fantastis lagi. Tapi itulah pasar investasi. Media tetap menceritakan kisah pertarungan dan balapan yang sama. Buku-buku investasi diterbitkan lebih berisi tentang peramalan dan mengalahkan pasar daripada buku mempelajari bisnis yang baik yang berlandaskan kepada kerja keras dengan produk inovasi dan pabrik terbangun. Dunia investasi 'papers " memang pada akhirnya membuat dunia terjerat krisis financial karenanya. 

Padahal sumber masalah finansial dunia mungkin bukan di sana. Masalah financial adalah KERAKUSAN . Ketika orang meng create ilusi lewat produk investasi yang menjanjikan masa depan tanpa kerja keras dengan laba berlipat, saat itulah komunitas rakus yang pemalas terbentuk, kelak mereka akan berurai air mata dan terkapar diladang pembataian..Wallstreet tetap berwajah zombi namun akan selalu mengundang orang untuk mendekat. Karenanya  sebaiknya, jangan terjebak dengan kekayaan tanpa kerja keras. Karena ini akan membuatmu menikmati hidup tanpa nurani. Punya ilmu tanpa kemanusiaan. Memiliki pengatahuan tanpa karakter. Berpolitik tanpa prinsip. Melakukan bisnis tanpa moralitas dan pasti beribadah tanpa pengorbanan. Jangan takut dengan bisnis yang harus kerja keras walau hasilnya lambat yang kadang harus menghadang resiko, karena dari itu kamu akan tahu arti bersyukur dan tahu arti mencitai kehidupan ..Kami sepakat soal itu dan mengakhiri pertemuan itu untuk saling mendoakan agar tetap istiqamah di tempat ramai.

Kamis, 27 Oktober 2016

Doa terkabulkan...


Saya bertemu dengan teman lama di Bandara. Walau kami jarang bertemu namun setiap saya ingat akan dia, saya selalu mendoakan dia. Kenangan dengan teman ini tidak akan pernah saya lupakan seumur hidup.  Saya teringat 30 tahun lalu. Ketika itu usia saya 21 tahun dan dia 25 tahun. Kedekatan saya dengan dia karena satu kelompok pengajian Tarikat. Kegiatan pengajian ini dilakukan dari masjid ke masjid. Kadang diadakan juga dirumah. Kegiatan pengajian kami tidak berafiliasi dengan ormas Islam dan tidak terlibat dalam aktifita politik. 

Walau ketika itu banyak kekuatan ormas islam bawah tanah yang berjuang untuk tegaknya negara Islam namun kami tidak terpengaruh. Padahal ketika itu hubungan antara umat islam dan Pemerintah sedang memanas karena dipicu oleh wacana akan di berlakukannya asas tunggal Pancasila. Kesan yang saya dengar memang di setiap masjid dan Mushalla setiap hari ada saja pengajian dengan mengundang ulama beraliran keras yang memang ahli mengagitasi umat untuk bergerak membela nama Allah dalam  perjuangan Jihad. 

Ketika itu ( 1984) saya dan teman itu berangkat ke Tanjung Priok bukan untuk pengajian tapi di dorong rasa ingin tahu ada apa sebenarnya. Karena tersiar kabar beberapa kelompok aktifis islam yang ada disekitar  Jakarta, Bogor dan Banten telah berdatangan ke Tanjung Priok, dengan maksud memberikan dukungan moral agar ulama yang di tahan Polisi karena pertikaian membela kehormatan masjid dapat di bebaskan.

Seusai sholat Jumat, massa mulai bergerak kearah pos Polisi Pocis Tanjung Priok dengan tujuan membebaskan ulama. Namun  entah mengapa ditengah kerumunan massa saya memperhatikan disebelah saya ada anak muda seusia saya dipunggungnya nampak ada yang menonjol dan ketika saya ikut berdesakan dengannya saya merasakan dibalik jaket levisnya itu adalah senjata mesin Serbu. Teman saya membisikan kepada saya bahwa sebaiknya kami keluar dari kerumunan karena intel Tentara sudah ada didalam kerumunan massa. Saya dan teman segera keluar dari kerumunan massa yang diperkirakan jumlahnya ribuan itu. Dengan susah payah kami berhasil keluar dari kerumunan itu. Saya dan teman langsung kembali ke Tanah Abang. 

Dari cerita teman lain yang menyaksikan keributan Tanjung Priok bercerita kepada kami sebagai berikut. Ribuan orang berkumpul dengan semangat membara, disemangati khotbah dari Amir Biki, Syarifin Maloko, Yayan Hendrayana, dll. Tuntutan agar aparat melepas empat orang yang ditahan terdengar semakin keras. Amir Biki dalam khotbahnya berkata dengan suara bergetar, “Saya beritahu Kodim, bebaskan keempat orang yang ditahan itu sebelum jam sebelas malam. Jika tidak, saya takut akan terjadi banjir darah di Priok ini”. Mubaligh lain, Ustdaz Yayan, bertanya pada jamaah, “Man anshori ilallah? Siapa sanggup menolong agama Allah ?” Dijawab oleh massa, “Nahnu Anshorullah ! Kami siap menolong agama Allah !”

Sampai jam sebelas malam tidak ada jawaban dari Kodim, malah tank dan pasukan didatangkan ke kawasan Priok. Akhirnya, lepas jam sebelas malam, massa mulai bergerak menuju markas Kodim. Ada yang membawa senjata tajam dan bahan bakar. Tetapi sebagian besar hanyalah berbekal asma’ Allah dan Al-Qur’an. Amir Biki berpesan, “Yang merusak bukan teman kita !”.  Di Jalan Yos Sudarso massa dan tentara berhadapan. Tidak terlihat polisi satupun, padahal seharusnya mereka yang terlebih dahulu menangani (dikemudian hari diketahui, para polisi ternyata dilarang keluar dari markasnya oleh tentara). 

Massa sama sekali tidak beringas. Sebagian besar malah hanya duduk di jalan dan bertakbir. Tiba-tiba terdengar aba-aba mundur dari komandan tentara. Mereka mundur dua langkah, lalu … astaghfirullah ! Tanpa peringatan terlebih dahulu, tentara mulai menembaki jamaah dan bergerak maju. Gelegar senapan terdengar bersahut-sahutan memecah kesunyian malam. Aliran listrik yang sudah di padamkan sebelumnya membuat kilatan api dari moncong-moncong senjata terlihat mengerikan. Satu demi satu para syuhada tersungkur dengan darah membasahi bumi. Kemudian, datang konvoi truk militer dari arah pelabuhan, menerjang dan melindas massa yang tiarap di jalan. Dari atas truk, orang-orang berseragam hijau tanpa nurani gencar menembaki. Tentara bahkan masuk ke perkampungan dan menembak dengan membabi-buta. Tanjung Priok banjir darah.

Pemerintah dalam laporan resminya yang diwakili Panglima ABRI, Jenderal L. B. Moerdani, menyebutkan bahwa korban tewas ‘hanya’ 18 orang dan luka-luka 53 orang. Namun dari hasil investigasi tim pencari fakta, SONTAK (Solidaritas Nasional untuk peristiwa Tanjung priok), diperkirakan sekitar 400 orang tewas, belum terhitung yang luka-luka dan cacat. Tapi menurut  teman saya yang selamat dari tembakan tentara mengatakan jumlah korban ribuan. Karena semua mereka yang duduk di jalan yang panjangnya lebih dari 2 KM  mati di tembaki oleh senjata mesin. 

Seminggu setelah itu, saya sedang ikut pengajian rutin di Masjid dikawasan Benhil di tangkap oleh aparat. Sempat merasakan 7 hari ditahan tapi rasanya seperti 7 abad. Karena 7 hari tidak ada hari tanpa siksaan. Semua tahanan ketika di periksa baik pria maupun wanita harus telanjang. Satu sama lain saling menyaksikan temannya disiksa. Dalam hati saya berdoa semoga ini tidak lagi terjadi kepada anak cucu saya. Semoga Allah memberikan ruang bagi anak cucu saya berjuang tanpa harus menerima kezoliman seperti ini. 

Sampai dua tahun setelah peristiwa pembantaian itu, suasana Tanjung Priok begitu mencekam. Siapapun yang menanyakan peristiwa 12 September, menanyakan anak atau kerabatnya yang hilang, akan berurusan dengan aparat.  Bahkan selama dua tahun itu terjadi penangkapan  kepada kader kader dakwah yang militan. 

Hal yang membuat saya tidak pernah lupa dengan teman itu adalah ketika kami di Penjara. Dia meminta saya untuk berzikir dengan zikir Nabi Yunus ketika didalam perut ikan Paus, Laa ilaaha illa anta. Subhaanaka, innii kuntu minaz zhaalimiin. Mengapa? Dengan peristiwa ini jangan cepat berbaik sangka bahwa kita di posisi yang benar sehingga pantas mati sahid, jangan berprasangka bahwa sikap kita benar dan di ridhoi Allah sehingga pantas masuk sorga. Apapun musibah itu adalah cara Allah mengingatkan kita bahwa ada kesalahan yang kita perbuat.  Samahalnya ketika Rasul kalah dalam perang Uhud. 

Benarlah , dua hari saya tidak pernah berhenti berzikir di dalam hati dengan doa nabi Yunus , bahkan ketika di periksa.  Keesokannnya saya di bebaskan begitu saja,teman saya juga. Ada ribuan yang masih ditahan dan tidak tahu bagaimana nasipnya. Tidak ada satupun ormas islam yang ada diluar bergerak  untuk membela segelintir kami.Tidak ada.  

Sejak itu saya dan teman memilih fokus dengan hidup kami. Belakangan saya tahu teman itu menjadi pengusaha perkapalan yang sukses. Tahun 2002 saya bertemu dengan teman ini di Singapore. Dia berkata  bahwa ternyata doanya ketika dulu di penjara terkabulkan. Apa doa itu? semoga Allah memberikan zaman kebebasan kepada generasi anak anaknya memperjuangkan keyakinannya dan merubah system negara sesuai syariah islam tanpa harus bergelimang darah. Saya tersenyum karena doanya sama dengan doa saya.

Kini era reformasi. Berkah tak terbilang bagi generasi muda untuk ambil bagian dalam perubahan kearah yang lebih baik,khususnya kearah perjuangan tegaknya keadilan. Di era reformasi ini semua golongan dan agama punya hak yang sama untuk menjadi pemenang. Jangan sampai fanatisme membuat kekuatan syiar islam meredub karena sifat keras hati, dengan menebarkan kebencian kepada mereka yang berbeda. Demokrasi harus di sikapi dengan cerdas. 

Berjuang tidak bisa seketika sukses. Semua kita harus berproses. Setidaknya mari merubah paradigma dalam berdakwah. Syiar islam harus di tebar tidak hanya melalui corong masjid dan demo tapi juga di lantunkan dalam karya nyata, bagaimana menjadi unggul dalam putaran waktu melalui program kemandirian ekonomi di tengah masyarakat. Membina mereka keluar dari lubang kemiskinan melalui pendekatan Tauhid agar kerja keras, kerja cerdas, kerja ikhlas  di maknai sebagai ibadah.  Melalui program dakwah karya nyata, lambat laun kepemimpinan Islam di rasakan rakyat untuk tertib dalam barisan shap , menjadi sekumpulan lebah yang hanya memberikan manfaat bagi semua. Hanya dengan dakwah seperti itu, proyek sosial islam yang mengusung rahmat bagi semua akan teraktualkan sebagaimana Rasul mencontohkan di Madinah ratusan tahun lalu.

Rabu, 26 Oktober 2016

Transformatif


Baik aku ceritakan kepada mu tentang yang di ketahui semua oleh mereka yang membaca injil. Begini kisahnya. Ada seorang wanita itu tertangkap basah berzina. Prianya tak di sentuh dan tak pula harus di hukum. Wanita itu berlari ketakutan di kejar oleh para pembenci zina. Setelah tak ada tempat untuk berlari, wanita itu menyerah. Orang farisi membawa wanita itu ke Guru Taurat. 
" Hukum Taurat Musa memerintahkan kita untuk melempari perempuan itu dengan batu.” kata para pemimpin Yahudi itu. ”Apa yang harus kami lakukan?” Sambungnya yang walau mengetahui hukum itu, tapi toh tetap bertanya. Bagi Yohanes, yang mencatat kejadian ini, guru Taurat dan orang Farisi itu memang berniat ”menjebak” Yesus. Mereka ingin agar sosok yang mereka panggil ”Guru” itu dengan nada cemooh?. Mengucapkan sesuatu yang salah.

Saya seorang muslim, bukan penafsir Injil. Saya hanya mengira-ngira latar belakang kejadian ini: para pakar Taurat dan kaum Farisi agaknya curiga, Yesus telah mengajarkan sikap beragama yang keliru. Diduga bahwa ia tak mempedulikan hukum yang tercantum di Kitab Suci; bukankah ia berani melanggar larangan bekerja di ladang di hari Sabbath? Mungkin telah mereka dengar, bagi Yesus iman tak bisa diatur pakar hukum. Beriman adalah menghayati hidup yang terus-menerus diciptakan Tuhan dan dirawat dengan cinta-kasih. Tapi bagi para pemimpin Yahudi itu sikap meremehkan hukum Taurat tak bisa dibiarkan. Terutama di mata kaum Farisi yang, di antara kelompok penganut Yudaisme lain, paling gigih ingin memurnikan hidup sehari-hari dengan menjaga konsistensi akidah.

Maka pagi itu mereka ingin ”menjebak” Yesus. Tapi Yesus tak menjawab. Ia hanya membungkuk dan menuliskan sesuatu dengan jari-jarinya di tanah. Dan ketika ”pemimpin Yahudi itu terus-menerus bertanya,” demikian menurut Yohanes, Yesus pun berdiri. Ia berkata, ”Barangsiapa di antara kamu yang tidak berdosa, hendaklah ia yang pertama melemparkan batu kepada perempuan itu.” 

Lalu Yesus membungkuk lagi dan menulis di tanah.

Suasana mendadak senyap. Tak ada yang bertindak. Tak seorang pun siap melemparkan batu, memulai rajam itu. Bahkan ”satu demi satu orang-orang itu pergi, didahului oleh yang tertua.” Akhirnya di sana tinggal Yesus dan perempuan yang dituduh pezina itu, kepada siapa ia berkata: ”Aku pun tak menghukum engkau. Pergilah, dan jangan berbuat dosa lagi mulai dari sekarang.”

Tak ada rajam. Tak ada hukuman. Kejadian pagi itu kemudian jadi tauladan: menghukum habis-habisan seorang pendosa tak akan mengubah apa-apa; sebaliknya empati, uluran hati, dan pengampunan adalah laku yang transformatif.

***
KIsah tentang Yesus itu memberikan inspirasi,  bahwa ilmu Tuhan itu maha luas, dan keluasan itu ada di hati yang bercahaya kebenaran atas dasar cinta. Kamu bisa memasuki Tuhan dengan cinta dari pintu mana saja. Kalau kamu mengagumi Rummi, kamu akan menyimpulkan bahwa ada tasawuf sebagai cara mendekati Tuhan dengan passion , dengan cinta. Ada ilmu syariat dan fikih yang mendekati Tuhan dengan rasa takut, dengan taqwa namun akal dan hati saling bertaut dan itu merupakan wilayah Al Ghazali. Apa artinya ? Akhirnya kita  sadar bahwa ada yang disebut agama individual, yang gurunya adalah Rummi, dan ada agama yang disebut sebagai sebuah agama kaffah yang diajarkan oleh fikih dan syariah. Tidak ada yang salah memilih cara Rummi atau cara fikih dan syariah asalkan di dasarkan kepada Cinta.

Namun sekarang agama isolatif kian tampak berkembang. Mereka dengan pemahaman tafsirnya membentuk mindset baru bahwa di luar sana salah dan kebenaran hanya milik mereka. Mereka antusias untuk meng-ideologi-kan Islam, dan kemudian menjadikan islam sebagai sebuah lembaga, yang berhak menentukan salah benar. Padahal pandangan Tauhid, menuntut manusia hanya takut pada satu kekuatan, yaitu kekuatan Tuhan. selain Tuhan, yang lain hanyalah kekuatan yang tidak mutlak alias palsu. Tauhid menjamin kebebasan manusia dan memuliakan hanya semata kepada-Nya. Pandangan ini menggerakkan manusia untuk melawan segala kekuatan dominasi, belenggu, dan kenistaan manusia atas manusia. Tauhid memiliki esensi sebagai gagasan yang bekerja untuk keadilan, solidaritas, dan pembebasan. 

Kalau kamu merindukan perubahan, maka dibutuhkan Raushanfikr (orang-orang yang tercerahkan), yakni individu-individu yang sadar dan bertanggung jawab  membangkitkan karunia Tuhan Yang Mulia, yaitu “kesadaran diri” masyarakat. Sebab hanya kesadaran diri yang mampu mengubah rakyat yang statis dan bobrok menjadi suatu kekuatan yang dinamis dan kreatif. Sosialisme dalam Islam adalah paham yang berpihak pada kaum tertindas (mustadzafin) dan meluruskan perjalanan sejarah dari kekuasaan tiran menjadi kelompok tercerahkan, berpihak pada kelas bawah (proletar) bersama orang-orang yang berada di jalan Tuhan.  

Pluralitas adalah keniscayaan. Kebenaran dari mana pun “kompatibel”. Tak ada kebenaran yang bentrok dengan kebenaran lain. Mereka semua penghuni dari rumah yang sama, dan bintang dari gugus yang sama. Kita tak mungkin memiliki semua kebenaran, dan kita membutuhkan tempat lain serta orang lain untuk membantu membuka aspek yang berbeda dari kebenaran itu. Pengetahuan keagamaan secara keseluruhan adalah campuran yang benar, yang salah, yang lama, dan yang baru yang mengalir seperti di dalam sebuah sungai besar.  Maka, Islam bukanlah, dan tak seharusnya jadi, sebuah ideologi—sesuatu yang di asumsikan bisa menjelaskan segala hal, membimbing segala ihwal. Islam itu sederhana.

Ketika ada yang berkata bahwa ia paling benar dalilnya maka ada dua hal yang sedang dia perjuangkan, pertama adalah agama sebagai alat merebut hegemoni politik untuk meraih kekuasaan,  kedua, memperkecil nilai islam itu sendiri agar Islam sebagai rahmatanlilalamin meredub melalui kampanye perbedaan mahzab, golongan, etnis. Keduanya sengaja untuk melepaskan agama sebagai kekuatan individu,yang terikat langsung dengan sang Khalik. Makanya hak individu dalam menentukan pilihannya sangat di tentang oleh mereka.  Mereka membenci demokrasi dan segala turunan yang membela hak azasi manusia yang tidak sesuai dengan mahzab mereka. Mereka punya visi dan misi, serta keyakinan. Bahwa merekalah yang akan menjamin kehidupan ini menjadi beres. Yang lain akan binasa dan sengsara.

Apapun pengetahuan di dunia ini berasal dari Tuhan. Bahwa Allah disamping menurunkan Ilmu khasshah melalui Al Quran dengan perantara Rasul , Allah juga menurunkan  ilmu ‘ammah kepada manusia secara langsung yang disebut dengan ayat-ayat kauniyah. Artinya ,apakah sesuatu yang tidak diatur dalam  Al-Quran lantas bukan berasal dari Allah? Katakanlah: Sekiranya lautan menjadi tinta untuk (menulis) kalimat-kalimat Tuhanku, sungguh habislah lautan itu sebelum habis (ditulis) kalimat-kalimat Tuhanku, meskipun Kami datangkan tambahan sebanyak itu (pula)”. (QS al- Kahfi [18]:109). Jadi salah besar bila agama di kotak oleh harakah dan meng claim hanya dalil nya saja yang benar. Islam terlalu luas untuk hanya di monopoli satu harakah saja. Apalagi hanya berlandaskan kepada imu khasshah dan miskin ilmu ‘ammah. Dan pemaksaan dalam agama adalah sikap yang anti Alquran (lih. al-Baqarah 256; Yunus 99). 

Di era reformasi ini pemikiran Islam yang lebih moderat mendapat tempat, walau tidak mudah di terima oleh sebagian orang. Bahkan di tuduh sesat. Orang islam tidak perlu takut berbeda soal menentukan pilihan mereka terhadap Ahok yang non muslim. Yang memang butuh bertahun-tahun setelah reformasi yang sukses menjatuhkan Soeharto, akhirnya di era Jokowi sebagai Presiden, pemikiran Islam sebagai rahmatanlilalamin mendapat tempat, dengan keberadaan Jokowi yang Islam Nusantara, dapat mengalahkan koalisi yang di dukung penuh dengan islam aliran, dan unggul. Kemenangan Jokowi adalah kemenangan islam yang transformatif. Kini di era Jokowi keberadaan Ahok sebagai cagub DKI di uji , kemanakah angin perubahan terjadi. Kepemimpinan Jokowi di uji dan tentu juga Pancasila di uji.