Minggu, 26 November 2017

Mengapa BPJS Rugi ?



Di dunia sebetulnya bisnis yang engga mungkin rugi adalah asuransi. Mengapa ? Karana dia hanya jual janji kalau ini kalau itu, orang banyak bayar sekarang. Sementara hal yang berkaitan dengan kalau ini dan itu telah di cover dengan risk management seperti ketentuan usii dan tingkat kesehatan minima peserta untuk asuransi kesehatan, asuransi resiko lainnya telah di cover proteksi cost dengan segala kemungkinan buruk melalui high premium. Jadi apapun itu jenis asuransi resiko , perusahaan asuransi lebih banyak menangnya dari pada kalahnya. Kebangkrutan AIG ada contoh kasus yang tepat bagaimana Perusahaan Asuransi bisa jatuh dengan mudah ketika prinsip bisnisnya hilang, dimana ketentuan risk management di abaikan dengan syarat yang longgar. Pada awalnya management AIG menganggap semua risiko kredit perumahan itu sudah memenuhi standar kepatuhan otoritas tapi AIG lupa bahwa mereka bukan lembaga keuangan yang boleh mengambil resiko atas surat utang orang lain dengan mengabaikan prinsip bisnis nya sendiri.  

Kini mengapa BPJS kesehatan merugi. Bahkan merugi sejak awal bediri. Benarkah ? Berdasarkan data pada tahun 2014, BPJS Kesehatan mengalami defisit Rp 3,3 triliun, dan meningkat menjadi Rp 5,7 triliun pada tahun 2015. Di tahun 2016, jumlah defisit meningkat lagi jadi Rp 9,7 triliun. Di Agustus 2017, defisit sudah mencapai Rp 8,5 triliun dan diduganya bisa menjadi Rp 11 triliun hingga Rp 12 triliun di akhir 2017. Mengapa bisa rugi ? Penyebabnya pertama, BPJS menetapkan tarif premi dengan mekanisme cross subsidi. Ada dua jenis premi yaitu Penerima Bantuan Iuran (PBI) dan Non-PBI. Untuk PBI sumbernya dari APBN dan APBD. Premi untuk kelas III sebesar Rp 25.500 per bulan. Namun, berdasarkan hitungan aktuaria, seharusnya premi kelas III sebesar Rp 53.000. Artinya, subsidi sebesar Rp 27.500. Kemudian premi kelas II sebesar Rp 51.000 per bulan. Berdasar hitungan aktuaria, premi seharusnya Rp 63.000 per bulan. Dengan demikian, subsidi Rp 13.000..

Apakah hitungan premi aktuaria itu dibuat begitu saja? Tidak. Ada dasar perhitungannya. Dasarnya atas biaya yang menjadi standar yang diatur dalam UU dan peraturan pemerintah yang meliputi biaya pos kapitasi, pos INA CBGs, pos Dana Pengelolaan BPJS Kesehatan seperti upah, insentif, dan dana operasional, serta pos preventif dan promot. Pelanggan antas biaya ini bisa kena konsekwensi hukum. Makanya BPJS kesehatan menetapkan SOP yang ketat dan diterapkan secara database online. Sedangkan untuk hitungan premi kelas I atau non PBI sebesar Rp 80.000 sudah pas dengan hitungan aktuaria.

Lantas dimana sampai rugi? Karena faktanya dari 116 juta peserta BPJS yang non PBI hanya sebanyak 10,54 juta peserta atau hanya 9% dari total peserta.. Jadi wajar saja rugi karena lebih banyak yang disubsidi daripada yang bayar premi non PBI atau mandiri. Padahal tadinya diharapkan dari keuntungan premi non PBI bisa menutupi subsidi PBI. Tapi minat non PBI memang rendah. Padahal sudah ada pemaksaan sesuai PP 86/2013 dengan menyertakan sanksi hukum bagi yang tidak ikut BPJS kesehatan.

Solusinya :
1. Pemerintah menetapkan upah minimal formal Rp 12 juta sebulan. Agar premi sebesar 2% sebulan untuk BPJS dapat dibayar dan tidak membuat BPJS tekor membayar subsidi kekurangan yang di reimburse APBN/D. Kalau peserta non PBI naik dua kali lipat saja maka cross subsidi bisa dilakukan. Tidak ada rugi lagi

2. Kalau tidak bisa menetapkan upah minimal sebesar Rp 12 juta, maka pemerintah harus bailout kerugian BPJS . Karena ini amanah UU. Ini yang salah bukan BPJS tapi sistem yang di create pemerintah di era SBY tidak memperhitungkan resiko negatif cash flow akibat program utopia yang memaksakan vitalitas dengan konsumsi viagra. Tentu pemerintah harus melakukan serangkaian kebijakan terhadap BPJS dengan restruktur subsidi dan tarif. Memperbaiki management BPJS agar menjadi pengelola Asuransi berkelas dunia, yang bukan hanya mengandalkan subsidi langsung tapi juga mengelola pendapatan diluar itu. Kreatifitas management BPJS sangat menentukan bagaimana program sosial yang diamanahkan UU dapat terlaksana dengan baik.

Kamis, 23 November 2017

Jokowi bisa pecat Gubernur ?



Seorang nitizen yang sangat peduli kepada pembangunan Jakarta, bertanya kepada saya “ Babo, bisa engga presiden pecat si Anis itu. “. Saya jawab bahwa berdasarkan UU, tentu bisa asalkan memang Gubernur itu melakukan kesalahan dan berkinerja buruk. “ Karena itu saya ingin menjelaskan secara singkat hubungan antara pemerintah pusat dan Daerah. Walau gubernur di pilih langsung oleh rakyat lewat Pilkada, namun dia tetap bekerja dibawah kekuasaan presiden. Penanggung jawab pembangunan nasional itu ada pada presiden. Jadi agenda gubernur ya agenda Presiden. Kalau terjadi penyimpangan maka presiden melalui mendagri bisa menegur , dan bisa juga merevisi kebijakan gubernur, bahkan Perda bisa dibatalkan kalau tidak sesuai dengan UU, termasuk penetapan anggaran yang sudah disetujui DPR dapat di revisi atau di potong oleh Mendagri dan menteri Keuangan. Benarkah begitu besarnya kekuasaan presiden?

Mari simak ulasan berikut ini. UU UU 23/2014 tentang Pemerintahan Daerah (Pemda) di keluarkan sebulan sebelum Joko Widodo dilantik jadi presiden. RUU nya diusulkan tahun 2012 dan butuh 10 tahun untuk disyahkan DPR. UU baru ini adalah salah satu dari dua lainnya yaitu UU Desa dan UU Pemilihan Kepala Daerah, yang merupakan tiga pecahan dari UU No. 32/2004 tentang Pemerintahan Daerah. Mengapa tedapat tiga pecahan UU sendiri-sendiri? Karena ada keperluan penyempurnaan sesuai urusan masing-masing. Beberapa kelemahan yang diperbaiki misalnya menyangkut konsep kebijakan desentralisasi dalam negara kesatuan, hubungan antara pemerintah daerah dengan masyarakat sipil dan berbagai aspek penyelenggaraan pemerintahan daerah yang belum diatur.

Dalam UU 23/2014 tentang Pemda itu, ada pasal mengenai sanksi kepada kepala daerah berkinerja buruk atau dianggap melanggar UU. Jika pada UU sebelumnya disebutkan bahwa kepala daerah baru bisa diberhentikan apabila sudah ada rekomendasi DPRD kepada Presiden melalui Mendagri, kini prosesnya sudah diubah. Pada Pasal 80 UU Pemda itu, pemberhentian gubernur atau wakil gubernur bisa dilakukan oleh Presiden apabila pimpinan DPRD tidak menyampaikan usulan pemberhentian paling lambat 14 hari. Sedangkan walikota dan bupati diberhentikan langsung oleh Mendagri jika DPRD tak mengajukan usulan. Jadi, DPRD tidak bisa mengulur-ulur waktu lagi.

Belum cukup? Lebih keras lagi pada Pasal 80 turunanya, gubernur dan wakil gubernur diberhentikan sementara oleh presiden tanpa melalui usulan DPRD apabila didakwa melakukan tindak pidana kejahatan yang diancam dengan pidana penjara paling singkat 5 tahun, tindak pidana korupsi, tindak pidana terorisme, makar, tindak pidana terhadap keamanan negara atau perbuatan lain yang dapat memecah belah Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Jadi tindakan gubernur yang terus menggoreng issue perpecahan bangsa dapat di pecat walau DPRD membelanya. Bukan hanya soal itu saja, bahkan soal kecil seperti apabila gubernur cuti tanpa izin Presiden maka lebih dari 7 hari engga ngantor, presiden dapat memberikan teguran keras kepada Gubernur, dan dia harus mengikuti karantina pembinaan khusus di Puslitbang Mendagri agar ngerti tata kelola Pemda dan tahu aturan agar engga bego dan oon.

Jadi sekarang, gubernur yang ngeyel terhadap presiden dan sok jagoan ingin menjadikan negeri ini seperti khilafah atau menjadikan ibu kota jakarta kampung kumuh asalkan syariah, maka dia akan jadi pecundang. Gubernur memang pejabat politik tapi dia tidak bekerja untuk mesin politik. Dia bekerja sebagaimana layaknya walikota, yang harus mampu menterjemahkan kebijakan presiden secara detail dalam tataran implementasi mikro. KInerjanya di ukur bukan dari wacana dan retorika tapi dari prestasi nyatanya bagaimana meningkatkan PAD , dan mensejahterakan rakyat. Itu aja. Jadi ya sama dengan direktur utama anak perusahaan dihadapan Holding. “Banyak bacot, gue pecat lue, engga ada urusan labay moral. Gua mau untung bukan dengerin lue ngoceh.” kira kira begitu sikap sang bos kepada dirut anak perusahaan, ya begitupula sikap Jokowi terhadap kepala Daerah yang oon.


Senin, 13 November 2017

Politisasi Agama dan Komunis ?


13 Mei 1968, Revolusi Kebudayaan China, mereka menangkap Zhou dan membunuhnya. Tubuhnya dipotong potong. Jantungnya dimakan mentah mentah. Kaki dan kepalanya digantung didepan pasar kota, Wuxuan. Beribu ribu orang menontonnya. Janda, Zhou pun diseret kesana untuk melihat. Perempuan yang sedang hamil tujuh bulan itu diperintahkan untuk membuka bajunya. Ia menolak. Tapi seorang pemuda revolusioner, memaksa merenggut bajunya dari belakang. ” Terlalu kurus untuk dimakan ” kata pemuda itu setelah melihat tubuh kerempeng wanita itu dalam keadaan telanjang. Dalam ketakutan teramat sangat wanita itu melihat para pemuda revolusioner sedang memakan jantung suaminya dan sebagian ada pula yang sedang memakan kemaluan suaminya. Ini kanibalisme. Budaya binatang.

Dengan wajah dan mulut berlumuran darah , para pemuda itu berkata ” Ini suami mu ?
” Ya. ..” jawab wanita itu dengan rasa takut.
‘ Dia kapitalis penghisap darah rakyat. Benarkah ?
‘ Ya, Benar ‘ Suara wanita itu ketakutan, Dia sadar bahwa berkata “ tidak” adalah mengundang kematian.

Itulah gambaran sekilas tentang yang terjadi ketika Revolusi Kebudayaan yang menguncang China di paruh kedua tahun 1960 an sampai dengan tahun 1975 memang ganas. Yang paling buruk dari komunis adalah kebencian luar biasa kepada lawan politiknya. Berawal kepada kebencian karena perbedaan politik kemudian dengan seni propaganda yang diserang adalah pribadi lawan politik. Apapun dapat dijadikan alasan merusak reputasi lawan. Karena landasan moralnya bukan agama tapi politik maka mereka tidak merasa berdosa untuk memfitnah lawan politiknya dengan cara cara sistematis untuk menanamkan mindset kepada pengikutnya untuk terus menghidupkan kebencian dan amarah kepada lawan politiknya. Dan bila mereka menang maka hukum rimba dibenarkan akibat konsekwensi dari propaganda

Hal yang indentik dengan politik komunis soal kekerasan secara personal kepada lawan politik hanya sebanding dengan Islam radikal. Dimana agama dijadikan dokrin politik dengan pijakan tafsir Al Quran dan hadith yang dipolitisir. Targetnya adalah menggiring kaum BOTOL menjadi budak dan mesin perusak cinta dan kasih sayang. Tujuan utopia yang berlabelkan syariah islam menjadi pembenaran untuk meng-halalkan darah lawan politiknya atau siapa saja yang berbeda paham dengan mereka. Ada ulama yang mengeluarkan fatwa soal itu dan mereka siap bertarung bela ulama.

Makanya kini jangan terkejut bila cara mereka mengfitnah Jokowi sampai kepada masalah personal seperti meragukan ibu kandungnya, merusak rasa hormat seorang ayah yang menikahkan putrinya. Orang bermoral tahu bahwa issue ini jelas sangat menghina, apalagi adat orang timur dimana ibu sangat dihormati. Sangat memuliakan putrinya. Tapi mereka tidak peduli. Andaikan ada kesempatan mereka bisa membunuh Jokowi dan memakan daging jokowi seperti kasus Zhou di China ketika revolusi kebudayaan, pasti akan mereka lakukan. Saya pribadi pernah dikirim screenshot oleh nitizen yang memuat daftar orang yang jadi "target "kalau Jokowi jatuh dan kelompok mereka menang.

Mengenang ”Revolusi Kebudayaan ” , bagi china adalah mengenang sisi gelap. Tidak ada satupun warga China yang menginginkan jam berdetak mundur kemasa gelap itu. Kemajuan yang begitu pesat disegala sektor paska revolusi kebudayaan telah membuat mereka gamang dengan segala impikasi buruk seperti masa lalu. Koreksi demi koreksi adalah ujud dari ketakutan masa lalu yang gelap. Dari sinilah mereka belajar dari sejarah untuk hari esok yang lebih baik. Namun tetap saja Partai Komunis China exist hanya sebagai alat persatuan. Namun setidaknya mereka tidak lagi menyelesaikan perbedaan politik dengan hukum rimba tapi dengan pedang hukum. Tidak ada lagi politik personal tapi komunal dengat semangat gotong royong.


China sadar bahwa musuh utama China adalah politisasi agama, bukan berpolitik dengan moral agama. Musuh utama china adalah politisasi komunis , bukan berpolitik dengan moral komunis. China tidak menghapus komunis dan tentu tidak pula memusuhi agama tapi meluruskannya untuk peradaban yang lebih baik untuk china yang bersatu dan bermartabat.

Jumat, 10 November 2017

Porsi saham Kereta Cepat 10% ?


Saat sekarang pembangunan Kereta Cepat jakarta bandung sedang berlangsung. Tahap awal pekerjaan menyelesaikan 20 tunnel dibawah tanah sepanjang 20 KM. Ini pekerjaan paling rumit. Setelah itu baru memasuki tahap elevated yang tidak kurang rumit dan terakhir tahap pembangunan jalan diatas tanah. Kecepatan proses pembangunan ini tak lepas dari semangat dan dukungan Gubernur Jawa Barat menuntaskan semua perizinan yang diperlukan dan pembebasan lahan. Jadi kita harus akui bahwa tanpa peran Gubernur Jawa barat yang dari PKS, mungkin proyek ini tidak akan selesai sesuai jadwal. Apalagi masalah tanah sangat sulit dan Amdal sangat ketat sekali. Tapi Aher selalu digaris depan mendorong aparat pemda disemua wilayah yang kena TOD untuk memberikan dukungan.

Di perkirakan proyek ini akan selesai 2020 dan tahap kontruksi selesai 2019. Mengapa akhirnya BUMN hanya sisa 10% saham dan selebihnya dikuasai China 90% ? Padahal awalnya pemerintah berjuang agar BUMN menguasai 60% saham dan akhirnya tercapai dalan Perjanjian kersama antara 6 BUMN dan Pihak China. Pendirian perusahaan konsorsium pun sudah dilakukan dengan komposisi saham 60% BUMN Indonesia dan 40% China. Skema pembiayaan proyek ini 30% modal sendiri berasal dari konsorsium dan 70% berasal dari pinjaman CHina development bank. Perhatikan, walau china membawa uang sebesar 70% tanpa ada jaminan dari pemerintah namun mereka tidak keberatan minoritas dalam konsorsium. Namun kesepakatan ini tidak berjalan mulus. Karena DPR menolak penyediaan dana PMN kepada BUMN untuk setoran modal. Akibatnya proyek ini stuck selama setahun.

Jokowi tidak ingin proyek ini terjebak dalam permainan politik Senayan. Karena DPR melarang dana PMN dipakai untuk setoran modal maka Jokowi meminta kepada BUMN menyediakan sendiri dana untuk setoran modal. Karena semua BUMN dalam kondisi tight secara financial maka satu satunya cara agar proyek tetap jalan adalah melepas hak opsi saham sebesar 50% kepada CHina dan menyisakan saham 10%. Apakah kita rugi dengan komposisi saham ini ? Perhatikan uraian dibawah ini.:

1. Kontruksi 
60% pekerjaan kereta Cepat adalah civil work yang memungkinkan BUMN Kontrakor yang juga anggota konsorsium dapat kerjaan jasa kontruksi. Kalau proyek ini senilai Rp. 60 triliun maka Rp. 36 triliun menjadi revenue dari kontraktor dalam negeri.

2. Tanah
Tanah di Walini dimilik oleh PTP yang juga merupakan angota konsorsium. Tanah ini tidak dijual tapi sewa pakai dalam jangka waktu 60 tahun. Selama jangka waktu tersebut PTP dapat uang sewa yang pendapatannya jauh lebih besar daripada digunakan sebagai kebun teh yang sudah tua. Setelah 60 tahun akan kembali kepada PTP, yang tentu akan menambah modal bruto negara, karena tanah sudah menjelma jadi kota modern.

3. Tanah di Gedebage akan naik harganya sebagai TOD dan ini memungkinkan rencana memindahkan ibu kota Bandung dapat terlaksana tanpa harus rogoh uang dari APBD/APBN.

4. PT KAI sebagai anggota konsorsium akan mendapatkan transfer tekhnologi dari China railway untuk mengoperasikan kereta cepat dan ketika diserahkan kepada negara , PT.KAI udah mandiri untuk melesat sebagai perusahaan berkelas dunia.

5. Tekhnologi, Cina akan mendirikan pusat perawatan kereta cepat didalam negeri dan ini akan melibatkan banyak supply chain business dalam negeri dan tenaga kerja dari kaum terpelajar.

6. Dari setiap keuntungan yang didapat oleh konsorsium kereta cepat, negara tetap dapat pajak 25%, PPN atas barang mewah, dan PBB atas lahan yang dipakai untuk kereta cepat.

7. Semua daerah yang menjadi TOD seperti Halim, Krawang, Walini dan Gedebage akan menjelma menjadi kota mandiri berkelas dunia. Dan menjadi percontohan bagi daerah lain. Mengapa ? harap maklum 60% uang beredar ada di jakarta dan jawa barat. Penyediaan infrastruktur modern untuk komunitas ini sama saja melontarkan dua kota ini keangkasa menjadi marcusuar bahwa indonesia tidak di isi oleh kaum BOTOL.

KESIMPULANNYA.

Kalaupun akhirnya BUMN yang tadinya memiliki saham 60% kemudian terpaksa menjadi 10% itu karena ulah DPR dari partai koalisi merah putih, yang sebetulnya ingin menggagalkan Proyek Kereta cepat tapi disikapi dengan bijak oleh Jokowi, proyek tetap jalan. Namun secara keseluruhan dalam pertimbangan bisnis, Indonesia lebih banyak untungnya daripada China. Nah kalau sekarang ada yang ribut soal kecilnya saham BUMN dan meniupkan issue kelas kambing soal chinanisasi, itu akibat darah mereka semakin kental karena setiap upaya membendung jokowi ,gagal maning gagal maning..tinggal tunggu stroke aja..

Uang dan Kekuasan.


Jargon idiologi atau agama yang membungkus dirinya dalam retorika politik atau gerakan ormas hanyalah terompet dari kekuatan uang. Sistem demokrasi atau totaliter sama saja. Itu hanya model atau cover saja. Penguasa sebenarnya adalah uang. Nah kalau bicara uang maka jangan beranggapan bahwa uang itu seperti yang ada di ATM anda. Tapi uang yang dimaksud adalah berhubungan dengan resource ( sumber daya ). Uang di created oleh negara. Negara meng create uang berdasarkan regulasi. Regulasi yang buat adalah DPR. DPR membuat regulasi itu tidak bisa dipisahkan dari loby pengusaha.Di balik pengusaha itu ada bisnis. Di balik bisnis ada uang. Dan dibalik uang ada pemain hedge fund. Jadi real power adalah pemain hedge fund. Merekalah yang menyediakan resource ( sumber daya ) keuangan sehingga menjadi mesin kapitalis.

Suatu waktu di Desember 2015 di Hong Kong Financial Club. Mata saya terus tertuju keluar lewat kaca lebar nampak udara berkabut dingin menggigit. Dia datang juga akhirnya. “ Tidak ada yang mengatur dunia kecuali pemain hedge fund. Mereka mesin yang memanjakan pemilik uang dimana saja. Dunia ada karena uang dan mereka menjadikan uang sangat berkuasa atas apapun. Termasuk menentukan nasip bangsa dan negara. Trumps yang idiot dan businessman yang sudah berkali kali berlindung di bawah UU kebangkrutan akan menjadi orang nomor satu di AS. Itu karena Cevron dan Boeing berada digaris depan mendukunganya. Kamu tahu siapa dibelakang Cevron dan Boeing ? JP Morgan dan associated nya. Siapa dibalik Jp Morgan? mereka pemain hedge fund. “ Katanya. Dan benarlah dalam kompetisi Pilpres, Trump berhasil menjadi orang nomor satu di AS.

Para fund manager, banker, lawyer, pengamat politik, ekonom, bahkan Ormas dan Parpol semua dalam lingkaran kekuasaan pemain hedge fund. Mereka tidak akan bisa ditemukan di tempat umum. Karena semua aktifitas bisnis dan investasi yang marcusuar berujung kepada proxy yang hanya bidak dari pemain hedge fund sesungguhnya. Ketika terjadi krisis financial tahun 1998 yang membuat ASIA terguncang, semua pemimpin dunia menuding penyebabnya adalah UU Glass-Steagall Act dimana terjadi pemisahan antara bank komersial dengan Bank investasi. Tapi sebetulnya suara pemimpin dunia itu tidak lain adalah suara pemain hedge fund. Krisis itu hanyalah excuse untuk tujuan lebih besar. Benarlah, tahun 1999 Glass-Steagall Act dibatalkan oleh undang-undang Gramm-Leach-Bliley Act.

Apa yang terjadi setelah itu ? tahun 2008 walllstreet collaps dengan delisting nya saham Lehman Brothers dan berujung kepada badai moneter berskala gigantik. Imbasnya bukan hanya dijantung kapitalis AS tapi juga ke Eropa dan akhirnya dunia. Sejak itu satu demi satu penguasa yang membangkang tersingkir. Itu semua ulah dari pemain hedge fund. Mereka punya cara hebat menghukum penguasa ketika politik sangat berkuasa menentukan apa saja dan membuat ruang gerak mereka semakin sempit. Terjadinya Arab spring yang kini berujung reformasi politik kerajaan Arab yang menghukum ulama pendukung radikalisme tidak bisa dipisahkan dari ulah pemain hedge fund yang memaksa penguasa untuk “ Surrender or die.”
Ketika acara pertemuan Organisasi Pengusaha pada masa Pilkada DKI, beberapa proxy pemain hedge fund hadir disana. Saya segera keluar dari ruang pertemuan itu. Teman saya yang juga pemegang saham salah satu bank, bilang kesaya “ Ahok tamat.”. Mengapa mereka tidak suka Ahok? karena dia terlalu membela kepentingan rakyat melalui aksi menekan pengusaha lewat aturan konpensasi di luar anggaran. Sikap Ahok yang paling mereka tidak suka adalah menjadikan DPRD mandul sebagai kepanjangan tangan pengusaha. Mereka hanya ingin penguasa , hanya bekerja sesuai sistem dan dari sistem itulah mereka mengatur roda kekuasaan sambil main golf dan menikmati piknik di pusat wisata dunia.

Tahun depan diperkirakan Krisis akan kembali melanda dunia. Ini merupakan agenda besar dari pemain hendge fund, yaitu menggebuk penguasa yang masih bandel. Ada beberapa penguasa yang jadi target dan Jokowi adalah salah satu target yang akan digebuk. Pengalaman sebelumnya mereka selalu berhasil menjatuhkan penguasa seperti Soeharto dan terakhir membuat bangkrut venezuela dan memaksa raja Arab menangkapi elite kerajaan yang bandel. Tapi Jokowi bersama teamnya sangat sadar akan adanya serangan besar besaran itu di tahun 2018. Ini bukan untuk di takuti tapi harus dihadapi. Kehidupan seperti ini bukan hal baru tapi sudah ada sejak mata uang terbuka diterapkan.

Makanya Team Jokowi mempersiakan perang itu dengan baik. Berbagai regulasi yang bisa menjadi benteng gelombang krisis dibuat. Team di perkuat , koordinasi antar kelembagaan di intensifkan. Maklum bahwa perang semacam ini sangat rumit karena bukan hanya soal ekonomi tapi juga politik yang melibatkan para proxy dilingkaran pemain hedge fund seperti Parpol , Ormas dan pengamat politik dan ekonomi yang semuanya telah menjadi pelacur hedge fund. TNI dan Polri sadar sekali akan perang proxy ini pasti terjadi dan telah mempersiapkan diri dengan baik bersama perwira lapangan terbaik dalam operasi kontra-idiologi, kontra-radikalisme. Pelajaran kekalahan Ahok adalah contoh kasus kemenangan pemain hedge fund. Pemerintah tidak mau lagi kecolongan untuk kedua kalinya. Once is enough.

Kita harus belajar dari China bagaimana selalu menang dalam menghadapi perang dari pemain hedge fund ini. “ Ketika badai datang dari luar maka focuslah kepada musuh dari dalam negeri yang membungkus dirinya dengan gerakan sosial atau agama. Hadapi mereka dengan keras karena mereka bukan pejuang moral dan agama tapi proxy dari musuh kita sebenarnya “ demikian sikap china. Itu sebabnya China sangat dibenci oleh pemain hedge fund dan tentu China dibenci dimana mana, khususnya oleh para proxy.

Minggu, 22 Oktober 2017

Pendidikan mental ?


Dulu waktu masih ABG , kalau nonton TV lawak Bagio, saya tertawa terpingkal pingkal. Apalagi kalau Bagio malakonkan orang bodoh dan jadi korban lawakan. Papa saya hanya tersenyum. Namun setelah acara lawak selesai, papa saya menasehati saya yang sampai kini saya tidak bisa lupa “ Kamu tertawa karena melihat kekonyolan pelawak itu. Tapi kamu engga sadar bahwa apa yang dilakukan pelawak itu semata mata cari uang untuk keluarganya. Dia tidak peduli jadi bahan olokan dan ketawaan orang se Indonesia. Yang penting di bisa menghibur orang dan dia dapat uang karena itu. Itulah kehidupan. Kamu harus bisa menjadi diri kamu sendiri dan tak peduli seburuk apapun anggapan orang atas profesi kamu selagi itu halal, jalankan. Tanpa ragu. Merdekakan diri kamu tanpa harus jadi pengekor orang lain.

Pernah kalau sholat berjamaah dimana kakek ( Babo ) saya sebagai imam dan saya , nenek, juga tante saya sebagai makmum. Setelah usai sholat , kakek saya hanya wirid dan kemudian berdiri. Biasanya setelah itu, nenek saya akan ngomel ke kakek, bahwa dia mengajarkan saya sombong kepada ALlah, dengan tak mau berdoa. Tapi kakek saya hanya tersenyum. Ketika saya tanya kepada kakek atas sikapnya itu, maka inilah jawabanya yang tak pernah saya lupa “ Kakek setiap waktu berdoa dan lagi sholat itu sendiri adalah doa. Tapi doa yang paling baik adalah ketika kamu berbuat baik. Contoh ketika kamu ada kelebihan rezeki kamu bersedekah, berdoalah ketika itu, Ya Tuhan, engkau beri aku rezeki dan aku mencintai Engkau karena itu aku memberi kepada orang lain yang membutuhkan pertolongan. Contoh lain, ketika orang menzolimi kamu atau menghina kamu, maka segeralah berdoa “ Ya Tuhan beri aku kekuatan dalam kesabaran agar aku tidak jatuh dalam kehinaan dihadapanmu karena marah dan benci.”

Itu sebabnya ketika saya gagal masuk PTN, yang dikawatirkan oleh kedua orang tua saya , bukanlah gagal jadi sarjana tapi saya gagal menjadi diri sendiri. Karena kalau saya gagal menjadi diri saya sendiri maka itu artinya mereka gagal mendidik saya dan saya memang tak pantas dilahirkan. Dan itu tanggung jawab mereka kepada Allah. Teringat surat dari kampung kepada saya di rantau “ Kamu tidak gagal. Papa tidak mendidik kamu pengecut dan bergantung kepada titel pemberian orang. Kamu putra kami, jadilah sebaik baiknya diri kamu saja. Jangan pikirkan soal kegagalan kamu. Kamu tetap kebanggaan papa“ Dan ibu saya memberi motivasi saya “ Jangan karena kamu gagal kamu menjauh dari Allah. Selagi kamu dekat kepada Allah, kamu akan baik baik saja. Tuhan tidak aniaya, anakku. Kamu sebaik baik makhluk ciptaaNya. Jadi teruslah melangkah tanpa ragu.” Ketika kali pertama saya mampu keluar negeri berbisnis dengan orang asing, saya menangis ingat kedua orang tua saya yang telah mendidik mental saya dalam kesabaran dan penuh cinta.

Dari papa , saya mendapatkan nilai nilai budaya Minang untuk mandiri dari segi pikiran maupun perasaan dalam menghadapi realitas kehidupan, Kelak ini menjadikan mental saya tidak pernah merendahkan profesi orang lain dan menaruh hormat setiap effort orang untuk mencapai sukes dan bermitra dengan siapapun tanpa melihat suku dan agama orang lain. Dari kakek , saya mendapatkan pendidikan nilai nilai agama bahwa agama itu bukan yang diketahui dan dipelajari tapi di praktekan. Agama itu bukan hafalan tapi perbuatan untuk hanya beribadah kepada Tuhan. Saya tidak akan mengatakan kepada orang lain agama saya lebih baik kalau saya tidak mandiri secara ekonomi dan sosial. Karena agama saya mendidik saya untuk menjadi manusia mandiri dan pemberi, bukan meminta, apalagi pengeluh. No way.

Walau kedua orang tua saya tidak berpendidikan tinggi namun mereka menghadirkan secara nyata pendidikan karakter di dalam keluarga. Walau mereka bukan sarjana tapi 7 orang anaknya satu orang Phd, empat orang S2. Tapi tetap dengan prinsip mandiri entah itu jadi Professional, pengusaha, dosen, PNS. Karena semua kami dididik untuk berAgama dan berbudaya dalam bentuk perbuatan bukan retorika. Kami penganut yang taat tapi juga taat terhadap sunattulah. Bahwa menjadi diri sendiri adalah perjuangan untuk meraih ridho Allah. Jadi wahai anakku dan saudaraku dimana saja berada. didiklah anak dan keluargamu jadi mahluk merdeka. Ingat kemerdekaan negara kita tidak otomatis membuat kita merdeka secara mental . Yang menjajah kita bukan orang asing atau orang lain tapi diri kita sendiri..mindset kita yang menjajah kita. Merdekakan putra putri kita agar unggul dalam persaingan global..

Kamis, 05 Oktober 2017

Jangan sedih, Uni...


Uni diam saja. Hanya memandang. Lurus. Kosong, jauh. Lebih-lebih kalau duduk depan jendela. Angin kadang memburai-burai rambutnya sampai masai, namun Uni bergeming. Matanya terus menerawang ke cakrawala. Wajahnya tambah putih, kian lesi. Tidak jarang air matanya merambat sepanjang pipi. ”Uni ! Uni !” adik-adik mengimbau, berlari mendekati, memeluk, serta menarik-narik tangannya. Uni tak hirau. Tetapi ibu terus bicara. Ibu bilang kami juga harus sering bicara dengan Uni , menyeru namanya. ”Tapi Uni diam saja,” kata adik-adik. ”Seperti tak mendengar.”
”Uni mendengar,” ujar ibu. ”Dia sayang sekali kepada kalian.”

”Mengapa uni tidak menyahut?” adik terkecil bertanya kepada Uni Ros.

” Uni sedang malas bicara,” jawab Uni Ros. ”Ajaklah terus berkata-kata.”

”Malas bicara, seperti kalau aku ngambek?”

”Ya. Begitu.”

Sambil lambat-lambat menyisir rambut uni yang sepinggang ibu berucap, ”Ai, ai, harum dan bagus sekali rambutmu, Nak. Ikal. Legam. Ah, tidak elok kita terus mengenang yang sudah-sudah sampai rambut tak terurus. Itu, paman dan bibimu tiba, Nak. Salamilah paman dan bibimu.” Uni tetap tidak beringsut. Sudah lama uni serupa patung hidup. Sejak dia di pulangkan oleh suaminya , karena Uni tidak mau dimadu untuk kesekian kalinya. Suaminya guru mengaji dan juga acap diundang orang berdakwah. Pada waktu suaminya minta izin menikah untuk kali pertama, Uni bisa menerima karena Uni belum juga hamil setelah dua tahun menikah.

Tapi ketika suaminya minta izin menikah untuk ketiga kalinya Uni tidak menjawab apapun. Suaminya tetap melangsungkan pernikahan. Dan ketika suaminya menikah untuk keempat kalinya, Uni berontak dengan suara kencang sekali. Setelah itu Uni tidak lagi bicara. Dia menutup rapat mulutnya. Mungkin karena itu suaminya memulangkan Uni ke rumah kami.
”Baru kemarin aku baru bisa berangkat,” kata Paman Adi seperti minta maaf. ”Aku sibuk sekali. Banyak rapat bisnis yang harus aku lakukan.”

” Harus tunggu anak anak untuk jaga rumah. Baru bisa kemari. Maklum kami hanya berdua saja dirumah ” istri paman menambahkan.

”Paham aku itu,” balas ibu mengangguk, lalu menoleh kepada Uni. ”Begitu keadaannya, lihatlah.”

Istri Paman Adi menghampiri uni. ”Tapi mau dia makan, Uni?

”Mau. Disuapi.”

”Disuapi?” Bibi senyum memeluk bahu Uni. ”Disuapi engkau Meriani, anak rancak? Eh, kenapa keningnya ini?” Senyum bibi tiba-tiba lenyap.

”Tempo hari dia benturkan ke kaca rias,” sahut ibu. ”Tapi tidak dalam. Sudah kering sekarang.”

”Kenapa bisa begitu Nak!” Seru Bibi. “ Tengoklah, Bang!” Kata bibi kepada Paman. Bibi merebahkan kepala Uni di dadanya. Membelai-belai rambut dekat luka. ”Masih rajin engkau mengaji, Meri? Nanti mengaji, ya. Bibi ingin mendengarmu mengaji. Pamanmu juga.” Tidak berjawab. Hanya bulu mata lentik Uni mengerjap-ngerjap. Kemudian air 
matanya membersit lambat-lambat, bagai rembesan pada panci rusak.

”Lepaskan, Nak. Tumpahkan terus. Menangislah keras-keras!” ujar bibi masih tersenyum. Kakak terisak. Bahunya bergerak-gerak. Adik-adik dan Uni Ros berlarian mendekat. ”Uni! Uni...! Mereka rangkul tangan dan tubuh Uni . Uni tersedu-sedu dalam pelukan bibi.

”Maulud Nabi kemarin sudah tak disuruh orang dia mengaji,” kata ibu seperti berbisik kepada Paman Adi.

”Buya Nawawi juga tidak menyuruh?”

”Dia tetap. Sengaja buya tua itu kemari. ’Siapa pula anak gadis sefasih engkau mengaji Meri, ia bilang. Mengajilah saat maulud, sebagai biasa’. Tapi yang muda-muda menolak. Sekarang orang-orang muda berkuasa di surau. Katanya, tak ingin menerima istri durhaka kepada suami”

Paman Adi melempar pandang ke luar rumah. Sebuah bendi lewat di muka rumah, penumpangnya tak menengok. Paman kembali melihat ibu. ”Sebaiknya Uni ikut denganku ke jakarta ,” dia bilang.

”Bagaimana aku bisa pindah, Adi ? " jawab ibu. ”Rumah ini peninggalan Uda Amsar kau. Aku ingin membesarkan anak anak dirumah yang Uda kau dapat dari kerja kerasnya. Aku akan menjaga hartanya dan bekerja keras membesarkan konveksi yang diwariskan Uda kau”

” Uni masih muda. Menikahlah lagi”

" Sudah kepala lima usiaku. Tak terpikirkan bagiku untuk menikah lagi. Bagiku anak anak adalah tugas yang harus aku tuntaskan. Ini amanah dari Uda kau sebelum meninggal. Eh siapa pula yang mau menikahi ku…"

" Uni aku hanya ingin menghindarkan Uni dari fitnah. Di kampung ini orang mudah sekali bergunjing walau sumber berita fitnah belaka. Aku sebagai adik pria Uni harus bertanggung jawab terhadap kehormatan Uni.Kalau uni tak ingin menikah lagi, Ikutlah dengan Ku ke jakarta. Ajak keempat anak anak Uni. Tinggal dirumah ku. Kami dirumah hanya berdua saja. Kedua anak kami kan sekolah di luar negeri”

”Tak mau aku. Uni tahu kau sangat peduli dengan Uni. Tapi Uni akan baik baik saja. Yang penting sering seringlah telp Uni ya and tengokin uni Ya. "
Paman terdiam lama. Menyulut rokok. Melihat pula ke luar. Orang-orang tetap lewat di muka rumah, tak menengok. Hanya melirik sedan yang disewa paman di bandara sedang Parkir di halaman.Akhirnya paman berkata " Kalau begitu biarlah Meri ikut aku ke jakarta. Biar aku yang urus dia. Semoga dia bisa tenang disana dan bisa semangat lagi hidupnya untuk memulai hidup baru. Bolehkah Uni”

" Baguslah kalau itu keputusan kau Adi. Uni hanya turut saja. Kau pamannya kau lebih berhak atas kemenakan kau”

”Sstt!” ucap bibi perlahan. Mengejutkan kami. "Tidur.” Berbisik pula pada adik-adik, ”Ambil bantal, selimut!” Lalu dia rebahkan kepala Uni hati-hati. Dia luruskan kakinya. Diselimuti.

Saat tidur begitu muka uni persis bayi. Bersih. Polos. Tak sedikit pun tersisa galau yang mendera: Ayah meninggal , diceraikan suami, diasingkan orang Kampung. Padahal, sebelumnya Uni periang, terkadang terdengar menyanyi di kamar mandi: tak ’kan lari gunung dikejar/ hasrat hati rasa berdebar…. Atau diajaknya adik-adik, aku, Uni Ros berdoa, supaya ayah dilapangkan kuburnya dan kelak kami bisa berkumpul lagi di sorga.

Lalu tiba suatu hari karena status istri tertua dari tiga istri, suaminya kembali minta izin menikah keempat, serupa badai Dan suaminya itu muncul di suatu petang, berwajah dingin memulangkan cincin kepada ibu. Tetapi, mantan suaminya maupun keluarganya selalu lewat di depan rumah dengan dagu terangkat pongah, saat uni mulai terbiasa duduk di muka jendela. Kemudian mantan suaminya itu memang tidak terlihat lagi. Kata orang ia sudah tinggal dirumah istri keempatnya di kampung sebelah. Sementara Uni semakin betah di muka jendela, menatap kejauhan tak berbatas.

”Sudah ke mana-mana kuobati,” kata ibu, memandang paman serta bibi penuh harap. ”Belum juga ia berubah. Ada kira-kira dokter di Jakarta dapat menangani?”

”Ada!” Paman dan bibi menjawab serempak. ”Tenanglah Uni,” lanjut bibi. 

”Kalau perlu kami bawa ke dokter di luar negeri. Sesekali akan kubawa pula dia umrah. Biar terbuka pikirannya”

”Kukhawatirkan justru Uni,” ulang Paman Adi. ”Ikutlah ke Jakarta!”

”Tak perlu khawatir, Adi" balas ibu. Sambil mengelus kepala paman ”Tidak semua orang jahat di kampung ini. ”

Uni terus tidur di beranda, tak bergerak-gerak seperti bayi. Napasnya lunak. Kulitnya bersih. Putih. Apa gerangan terlintas di pikirannya sehingga mukanya begitu bersih dan tenang? Apakah dalam tidurnya dia bertemu ayah? Di antara kami uni paling dekat dengan ayah. Barangkali karena perempuan, putri sulung; tapi tangannya campin pula, terampil-cekatan menangani rumah. Ayah bangga dengannya, berharap uni jadi guru tamat IAIN. Sedangkan Uni Ros diharapkan menjadi dokter”.

”Kakek-nenek kalian guru. Mestinya ayah juga. Tetapi malah jadi pengusaha konveksi. "Ayah tertawa suatu ketika. ”Syukur ada uni kalian, ya?” Kami mengangguk, turut bangga walaupun uni waktu itu baru kelas satu Sekolah Guru Atas.”

" Ayah, aku ingin punya suami seperti Ayah. Walau tak gagah rupa tapi ayah sangat sayang ke bunda dan kami. Tak seperti Angku Jafar yang kaya itu , yang punya istri empat. Tak suka aku lihat gayanya" Kata Uni.
" Apa maksud mu soal si Jafar?

" Bolehkah aku tahu pendapat ayah soal poligami " kata Uni tanpa rasa sungkan. Dan ayah memang mendidik kami sangat demokratis. Apalagi antara ayah dan Uni dekat sekali. Uni sangat manja kepada ayah.

" Pria boleh berpoligami selama dibutuhkan untuk menjaga dan mengelola harta anak yatim dari perempuan-perempuan yang ditinggal suaminya. Itupun dengan syarat wanita itu sebatang kara. Tidak punya kakak laki laki atau adik laki laki, Tidak punya paman dan ayah. Tapi jarang pria menikah lagi karena niatnya melindungi perempuan yang ditinggal mati suaminya demi menjaga harta dan memelihara anak yatim. Umumnya pria menikah lagi dengan perawan atau karena kecantikan wanita. Lebih karena nafsu rendah. Kedua, pernikahan itu harus ADIL. Adil disini bukan soal nafkah lahiriah tapi soal batin, dalam hal perasaan, emosi, cinta, kasih sayang.”

" Oh betapa ketatnya Allah memberikan syarat poligami bagi laki-laki. Jadi benar secara syar’i poligami itu bukan hal mudah bagi laki-laki, bahkan tidak mungkin. “

" Benar anaku. Coba baca Annisa ayat 129 “walan tastati’u anta’dilu baina annisa walau harastum,” kamu tidak akan bisa berbuat adil di antara istri-istrimu kalaupun kamu sangat ingin melakukan hal itu. Nabi Muhammad mengatakan “Barang siapa yang mengawini dua perempuan, sedangkan ia tidak bisa berbuat adil kepada keduanya, pada hari akhirat nanti separuh tubuhnya akan lepas dan terputus.” Masya Allah, ayah tidak mau terjadi seperti sabda Rasul itu. Bahkan sebagian ulama berpendapat bahwa poligami bisa diharamkan ketika calon suami tahu dirinya tidak akan bisa memenuhi hak-hak istri, apalagi sampai menyakiti dan mencelakakannya."

Uni sangat tercerahkan dengan pitutuah ayah itu. Kelak setelah Uni menikah , Uni selalu unggul dalam debat dengan suaminya yang meminta izin menikah lagi. Tapi entah mengapa semakin Uni paham dalil soal poligami semakin menjadi jadi gila kelakuan suaminya. Tak penting Uni setuju atau tidak, suaminya tetap menikah dengan seringai srigalanya

”Rencanaku besok kembali,” ucap Paman Adi . ”Kubawa Meri sekalian. Jaga diri Uni baik baik. Kalau ada apa apa telp aku. Si Burhan kalau tamat SLTP suruh dia ke jakarta biar aku urus pula dia.”

Ibu mengangguk-angguk. Ibu bernapas lega. Besoknya, Uni dibawa paman dan istrinya. Ibu menangis. Kami juga. Rumah jadi lengang—lengang sekali. Uni telah pergi. Tidak lagi berada di tengah-tengah kami. Dekat kami. Tapi, setidaknya mantan suaminya takkan lagi bisa tersenyum mengejek melihat Uni lagi termenung di depan jendela, memandang gunung ataupun kejauhan tiada batas. Tidak dapat lagi dia atau keluarganya mengangkat dagu dengan pongah bila lewat di muka rumah kami.

Di era sekarang , akal memperluas cakrawala, dan hati memperkaya Sukma. Sorga itu janji Tuhan namun cinta Tuhan yang utama. Bukan banyak ritual agama yang dituju tapi ikhlas yang utama .Uni telah bersikap dengan ilmunya dan hatinya menerima dengan berat namun ia berusaha ikhlas. Suaminyapun telah bersikap dengan ilmunya namun bertindak dengan nafsunya. Kami dibesarkan oleh ayah yang taat beragama namun rendah hati dalam beriman. Dan keperkasaannya sebagai pria tidak ditunjukkan kemampuannya menikahi banyak wanita tapi mendidik anak dan istri dengan teladan akhlak mulia. Paman Adi pengusaha hebat namun adat dan agama tetap menjadi bagian hidupnya. Anak dipangkunya, kemanakan dilindunginya dan saudara perempuan dijaganya dari fitnah..

Sabtu, 02 September 2017

Memahami APBN secara sederhana


Penghasilan Pak Dulah sebagai Guru honorer sebulan Rp.800.000. Itu pekerjaannya untuk 3 jam di sekolah SLTP. Dengan penghasilan sebesar itu pak Dulah harus menghidupi biaya rumah tangga dengan satu anak. Pengeluaran sebulan setelah di hitung mencapai Rp. 3.000.000, yang terdiri dari biaya transfortasi sebesar Rp. 500.000. Biaya makan Rp. 1.800.000. Biaya sewa rumah Rp. 700.000. Artinya defisit sebesar Rp. 2.200.000. Lantas bagaimana Pak Dulah bisa bertahan hidup dengan biaya lebih besar dari pendapatan tetapnya ?

Perhatikan solusi yang dikakukannya. Pertama dia membeli motor dengan kredit. Dengan uang gaji dia pakai untuk uang muka pembelian motor sebesar Rp. 300.000. Cicilan sebesar Rp. 800.000 sebulan untuk jangka waktu 3 tahun. Motor itu digunakannya untuk pergi mengajar. Artinya ada penghematan sebesar Rp.500.000/Bulan biaya transfortasi. Sepulang mengajar, motor itu digunakan untuk ngojek dengan penghasilan bersih rata rata sebulan Rp. Rp. 1500.000. Kemudian di bantu istrinya , dia membuka warung depan rumah. Untuk modal , dia menarik kredit dari koperasi simpan pinjam sebesar Rp. 3 juta. Dengan cicilan sebesar Rp. 300.000 sebulan. Dari usaha warung rumahan itu , diperoleh pendapatan rata rata bersih sebulan Rp. 1500.000.0.

Sekarang perhatikan struktur anggaran rumah tangga Pak Dulah.
Penerimaan
Gaji honorer                                      = Rp.    800.000.
Pendapatan dari ngoject                    = Rp. 1.500.000
Pendapatan dari Usaha warung           = Rp. 1.500.000
Penghematan transfortasi                   = Rp.    500.000
Total penerimaan adalah                    = Rp. 4.300.000.0
Pengeluaran
Belanja rutin                                     = Rp. 3.000.000
Cicilan motor                                     = Rp.    800.000
Cicilan hutang koperasi                      = Rp.    300.000
Total pengeluaran                              =Rp. 4.100.000

Selisih surplus antara penerimaan dan pengeluaran adalah Rp. 200.000. Nah Rp. 200.000 ini disebut dengan ruang fiskal bagi keluaga Pak Dulah. Ini bebas dia gunakan. Tapi Pak Dulah tidak gunakan uang ini untuk konsumsi makan di mall atau piknik. Tapi ditabung untuk biaya investasi anak sekolah , juga biaya pendidikan Pak Dulah untuk kuliah lagi dan sebagian di gunakan meningkatkan modal bagi usaha rumahannya agar semakin besar peluang menghasilkan penerimaan. Berlalunya waktu semakin besar penerimaan, semakin besar kemampuan berhutang, maka Dulah membeli rumah agar biaya sewa tidak perlu ada lagi. Diapun memperluas usahanya menjadi pedagang kelontongan di pasar tradisional yang dibantu istrinya. Apalagi Pak Dulah sudah jadi sarjana berpeluang mendapatkan karir lebih baik.

Cerita tentang Pak Dulah ini pernah diterapkan oleh Jepang dan Korea ketika awal membangun setalah perang korea dan perang dunia kedua. Korea dan Jepang tidak punya sumber pendapatan yang bisa menutupi anggaran negaranya. Benar benar minus. Tapi AS memberikan pinjaman dalam rangka restorasi perang kepada Korea dan Jepang. PInjaman ini tidak di pakai untuk konsumsi tapi produksi dan investasi. Pemerintah berhutang lebih 300% dari PDB. Apakah akhirnya jepang dan korea bangkrut ? tidak. Malah berkat hutang dari AS itu mereka menjadi negara maju dengan tingkat pendapatan diatas rata rata negara berkembang. Artinya hutang berperan besar meningkat ekonomi dan kesejahteraan rakyat. Begitu pula dengan Pak Dulah yang sukses melewati hidup yang keras berkat hutang.

***
Ada lagi cerita. Pak Somad seorang Pegawai swasta. Gajinya sebulan Rp. 10.000.000. Tapi pengeluaran sebesar Rp. 13.000.000. Artinya defisit sebesar Rp. 3 juta rupiah. Somad sepakat dengan istrinya bahwa mereka akan berhutang maksimum sebesar 3 % dari total hartanya. Total hartanya Rp. 300 juta. Artinya mereka bisa berhutang maksimum sebesar Rp. 9 juta. Nah karena defisit hanya sebesar Rp. 3 juta atau 1 % dari harta maka mereka berani berhutang menutupi defisit. Tapi hutang itu tidak menyisakan ruang fiskal apapun. Karena semua hutang itu habis untuk belanja rutin.

Apa yang terjadi dari tahun ketahun hutang terus bertambah karena gali lobang tutup lobang. Akibatnya perbandingan antara hutang dengan harta mencapai 80%, Akhirnya terpaksa harta dijual untuk bayar hutang. Mengapa sampai begitu ? karena setiap berhutang habis untuk belanja rutin. Tidak tersisa untuk produksi yang bisa meningkatkan harta. Padahal apabila hutang bertambah namun harta produktif juga bertambah, maka rasio hutang terhadap harta tidak akan naik karena ada penghasilan tambahan menyertai harta produktif. Apa yang terjadi pada Somad, juga terjadi pada pemerintahan Bolivia, venezuela, Italia, Yunani. Defisit ditutupi dari hutang namun ruang fiskal sangat kecil sekali.

Sebetulnya yang terjadi di Era SBY hampir sama. Ruang fiskal tidak cukup untuk bangun bandara atau pelabuhan atau kawasan industri. Karena sebagian besar habis untuk konsumsi. Akibatnya sejak 2011 ketika penerimaan menurun belanja terus meningkat defisit ditutup dari hutang. Walau rasio defisit dibawah 3% dari PDB namun tidak ada peningkatan harta. Makanya perbandingan hutang terhadap PDB terus meningkat. Tapi untung di era Jokowi kebijakan anggaran diubah. Bagaimana perubahan itu?

Katakanlah penerimaan sebesar Rp. 100 juta rupiah. Pengeluaran Rp. 120 juta. Artinya defisit sebesar Rp. 20 juta. Kalau PDB sebesar Rp, 1 miliar maka perbanding defisit terhadap PDB sebesar 2%. Ini jelas aman dibawah pagu 3% yang ditetapkan oleh DPR. Tapi tidak ada ruang fiskal untuk produksi dan investasi yang dilakukan Jokowi untuk ekspansi. Kalau Jokowi pertahankan platform APBN seperti SBY maka tidak akan ada pembangunan insfrastruktur. Lambat namun pasti Indonesia akan terjebak hutang tanpa ada peningkatan PDB secara significant. Keputusan yang diambil adalah pemangkasan belanja rutin. Tapi penerimaan juga menurun karena krisis global. Memang tidak ada defisit setelah pemangkasan anggaran itu. Tapi juga tidak ada ruang fiskal untuk ekspansi. Sementara hutang masa lalu harus terus dibayar sebagai belanja rutin.

Nah agar bisa ekspansi maka pos pengeluaran ditambah lagi sebesar ruang fiskal yang di inginkan agar pertumbuhan ekonomi terjadi. Dampaknya APBN jadi defisit. Defisit ini ditutupi dari hutang. Tapi semua hutang digunakan untuk investasi yang bisa memacu produksi dan peningkatan pendapatan. Apa yang terjadi ? Walau hutang bertambah tapi harta ( PDB) juga bertambah, dan rasio hutang terhadap PDB juga tidak berpengaruh significant. Apa yang dilakukan oleh Jokowi kurang lebih sama dengan Dulah tapi Jokowi masih lebih baik karena masih ada harta. Beda dengan Dulah yang mengawali dari nol atau defisit gigantik. Kuncinya sama halnya dengan Dulah, bukan seberapa besar hutang atau rasio hutang tapi sejauh mana focus kepada produksi bukan konsumsi, Makanya kerja keras dan efisien adalah keniscayaan dan sukses akan terjadi sebagaimana sunatullah.